Ikigai hidup
-(Rabu, 10 September 2025)-
Ada satu informasi menarik: orang-orang Jepang dikenal dapat hidup panjang, bahkan hingga ratusan tahun. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka bisa mencapai usia sepanjang itu?
Memiliki umur panjang dan sehat tentu menjadi harapan sebagian besar manusia. Bahkan, ada yang membayangkan hidup abadi. Chairil Anwar, misalnya, pernah menulis keinginan untuk hidup seribu tahun lagi. Dalam film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides, para tokohnya berusaha keras mencari air keabadian. Dalam buku Homo Deus, Yuval Noah Harari juga mengungkap bagaimana manusia lewat sains dan teknologi berupaya menyimpan memori dalam sebuah entitas atau robot, seolah-olah membuat kehidupan bisa terus berlanjut.
Namun, resep panjang umur orang Jepang tidaklah serumit atau sefantastis itu. Ada satu konsep sederhana tetapi mendalam, yang disebut Ikigai. Yaitu menjalani hidup sesuai panggilan jiwa, menemukan alasan untuk bangun setiap hari, dan terus berkarya. Dalam budaya Jepang, tidak ada kata “pensiun” dalam arti berhenti total. Justru, berhenti bekerja sepenuhnya dianggap berisiko, karena dapat membuat seseorang kehilangan makna hidup. Hilangnya aktivitas harian bisa membawa kejenuhan, rasa putus asa, dan berdampak langsung pada kesehatan fisik maupun mental.
Lalu bagaimana dengan para ASN atau karyawan, yang sesuai aturan memang memiliki batas usia kerja?
Di sinilah pemahaman tentang Ikigai menjadi relevan. Menjelang pensiun, yang perlu disiapkan bukanlah akhir dari aktivitas, melainkan pergeseran atau shifting pekerjaan. Pertanyaannya bukan lagi “kapan berhenti bekerja?”, melainkan “aktivitas bermakna apa yang akan dijalani setelah pensiun?”.
Selama ini, kata “pensiun” sering menjebak cara pandang kita. Seolah-olah setelah pensiun seseorang hanya duduk manis, tidak lagi bekerja, dan tinggal menikmati hidup. Padahal, hidup yang benar-benar bisa dinikmati adalah hidup yang masih memiliki makna. Tanpa aktivitas produktif, seseorang justru berisiko kehilangan vitalitasnya.
Karena itu, mungkin istilah yang lebih tepat bukanlah pensiun, tetapi “batas profesi”—yakni saat seseorang perlu mulai mengganti pekerjaan formalnya dengan aktivitas lain yang lebih sesuai dengan kondisi dan minatnya. Dengan begitu, masa pensiun bukanlah akhir, melainkan babak baru yang tetap penuh produktivitas.
Bagaimanapun, terus produktif di usia tua dapat memberikan makna, kebahagiaan, sekaligus menjaga kesehatan. Dan inilah rahasia panjang umur orang Jepang: hidup dengan ikigai, menemukan alasan untuk tetap bersemangat setiap hari.