Menyadari kefanaan

-(Rabu, 24 September 2025)-

Ketika berada di Mekkah dan Madinah, hampir setiap hari saya ikut berdiri dalam sholat jenazah atau sholat gaib. Begitu sering, sampai-sampai rasanya menjadi bagian dari keseharian di tanah suci. Namun, beberapa bulan setelah kepulangan, barulah hari Minggu kemarin saya kembali merasakan suasana sholat jenazah di tanah air.

Pengalaman kali ini berbeda. Saya berdiri di shaf terdepan, tepat berhadapan dengan keranda. Di tanah suci, jenazah biasanya tidak tampak dari posisi jamaah, sehingga saya hanya mengikuti sholat tanpa melihat langsung. Tetapi kali ini, keranda itu begitu dekat, nyata, dan jelas di depan mata.

Saya tidak mengenal almarhum. Namanya saya ketahui hanya dari pengumuman keluarga yang disampaikan di masjid. Sebenarnya, niat saya datang hanya untuk sholat dhuhur berjamaah. Namun, begitu memasuki masjid, suasana terasa lain: jamaah begitu banyak, tidak seperti biasanya. Rupanya karena ada jenazah yang akan disholatkan, dan banyak orang datang untuk mengantarnya.

Setelah sholat selesai, saya terdiam. Ada kesadaran yang menelusup begitu saja: setiap orang pada dasarnya sedang menunggu gilirannya. Hari ini kita menyolatkan orang lain, suatu saat nanti, kita sendiri yang akan disholatkan.

Dari kesadaran itu, muncul perasaan hampa. Segala sesuatu yang kita kumpulkan, kita kejar, dan kita banggakan, pada akhirnya tidak ada yang bisa dibawa. Semuanya akan ditinggalkan. Lalu, untuk apa semuanya?

Namun justru di situlah maknanya. Karena hidup ini singkat, maka waktunya harus digunakan dengan baik. Kita tidak bisa hanya larut dalam mengejar hal-hal yang fana. Ada sesuatu yang lebih penting: bagaimana hidup ini bisa memberi arti, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"