Usai disini
-(Kamis, 12 Maret 2026)-
Hari ini adalah hari terakhir saya di tempat ini. Pada akhirnya saya tiba juga di titik itu—titik yang selama ini mungkin saya tunggu, atau justru diam-diam saya hindari. Saya sendiri tidak sepenuhnya yakin. Ada perasaan yang sulit saya definisikan, dan mungkin saya pun belum cukup berani untuk benar-benar jujur kepada diri sendiri tentangnya.
Yang jelas, satu episode kehidupan telah usai saya jalani.
Dalam episode itu, saya bertemu dengan banyak orang. Beragam latar belakang, karakter, cara berpikir, dan cara merespons dunia. Dari perjumpaan-perjumpaan itulah saya belajar sesuatu yang sederhana namun tidak mudah: memahami manusia adalah pekerjaan yang tak pernah selesai. Setiap interaksi adalah pelajaran kecil tentang bagaimana bersikap, bagaimana menahan diri, dan bagaimana tetap menjaga kewarasan dalam menghadapi perbedaan.
Di episode itu, saya diuji dengan sebuah amanah: memimpin. Sebuah kepercayaan yang pada awalnya terasa seperti sepatu yang sedikit terlalu besar untuk saya kenakan. Namun seiring waktu, sepatu itu perlahan menyesuaikan, atau mungkin justru saya yang belajar menyesuaikan langkah.
Tugasnya jelas—membawa tim mencapai keberhasilan dalam misinya. Keberhasilan itu tentu bisa dilihat secara kasat mata: capaian, prestasi, angka-angka yang tercatat rapi dalam laporan. Tetapi di balik itu, ada pekerjaan lain yang tidak pernah tercatat dalam tabel mana pun: menjaga agar tim tetap utuh sebagai sebuah kesatuan.
Saya menyadari sejak awal bahwa retakan kecil dalam sebuah tim seringkali tidak datang dari kegagalan kerja, melainkan dari percakapan yang salah arah. Dari kalimat yang diucapkan setengah bercanda, dari bisikan kecil di sudut ruangan, dari kebiasaan membicarakan seseorang ketika orang itu tidak ada.
Karena itu saya mencoba menjaga satu prinsip sederhana: saya tidak bergosip tentang anggota tim kepada anggota tim lainnya.
Bukan karena saya ingin terlihat lebih baik, tetapi karena saya tahu betapa mudahnya percakapan semacam itu berubah menjadi benih kecurigaan. Ketika seorang pemimpin ikut menjelekkan seseorang di belakangnya, secara tidak langsung ia sedang membuka pintu agar semua orang melakukan hal yang sama.
Saya ingin menutup pintu itu.
Dengan cara itu, saya berharap anggota tim tidak merasa perlu menjatuhkan satu sama lain di depan saya, atau menilai rekannya melalui cerita-cerita yang belum tentu utuh. Jika ada yang perlu dibicarakan, maka yang dibicarakan adalah persoalan, bukan orangnya.
Tentu saya juga sadar bahwa dalam hubungan manusia, bergosip sering kali berfungsi seperti pelumas sosial. Ia mencairkan suasana, menumbuhkan rasa kedekatan, dan kadang membuat percakapan terasa lebih hidup. Saya tidak menutup mata terhadap fakta itu.
Namun saya mencoba memilih bentuk kedekatan yang lain.
Alih-alih membicarakan orang, kami lebih sering membicarakan gagasan. Kami mengevaluasi sesuatu di luar tim kami, mendiskusikan pendekatan, atau memperdebatkan ide. Percakapannya mungkin tidak selalu ringan, tetapi ia menjaga satu hal penting: kami tetap fokus pada pemikiran, bukan pada pribadi.
Dengan cara itu, saya berharap keintiman yang terbentuk bukanlah keintiman yang dibangun di atas kelemahan orang lain, melainkan di atas rasa ingin tahu bersama.
Kini episode itu telah selesai.
Pertanyaan yang tersisa justru sederhana, namun cukup mengganggu pikiran saya: apakah saya masih bisa mempertahankan prinsip-prinsip itu di tempat yang baru nanti?
Lingkungan akan berubah. Orang-orangnya berbeda. Dinamikanya tentu tidak sama.
Tetapi mungkin memang di situlah ujian berikutnya dimulai. Sebab prinsip, seperti kompas, baru benar-benar terasa nilainya ketika kita berada di wilayah yang belum kita kenal.
Saya berharap kompas itu masih bekerja dengan baik.