Air terjun

-(Senin, 30 Maret 2026)-

Pagi yang beranjak siang itu, kami memulai perjalanan menuju ketinggian—sebuah rute yang, dalam beberapa tahun terakhir, hampir selalu kami tempuh setiap kali pulang dari berlebaran di kampung. Barangkali benar pepatah lama itu: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Perjalanan pulang ke kota kami sulap menjadi sekaligus perjalanan mencari jeda—wisata kecil di sela rutinitas yang menunggu.

Sejak awal, kami sepakat untuk singgah di salah satu kafe estetik yang berjajar di sepanjang jalur pegunungan itu. Tempat-tempat yang menjual lebih dari sekadar kopi dan makanan—mereka menawarkan lanskap, ketenangan, dan ilusi bahwa waktu bisa berjalan lebih lambat. Namun, kami tak pernah benar-benar menentukan tujuan. Insting kami jadikan kompas. Ketika satu tempat terasa “memanggil”, kami berhenti. Tentu saja, spontanitas itu tetap dibungkus kehati-hatian—jalan yang ramai menuntut kami untuk tidak gegabah.

Perjalanan berlangsung lancar. Tak ada kemacetan, meski kendaraan lalu-lalang cukup padat. Jejak hujan pagi masih tertinggal di aspal yang basah, memantulkan cahaya samar langit yang belum sepenuhnya cerah. Jalan mulai menanjak, lalu berkelok. Saat memasuki kawasan Sarangan, tanjakan dan tikungan serta kabut tebal seolah bersekutu, memaksa kami untuk lebih fokus, sekaligus lebih sadar akan keindahan di sekitar.

Hingga akhirnya, tepat setelah sebuah kelokan, keputusan itu datang—secepat intuisi bekerja. Kami berhenti di depan sebuah kafe yang dikelilingi pohon-pohon pinus. Tinggi, lurus, dan diam, seperti penjaga waktu yang tak tergesa. Area parkirnya miring, mengikuti kontur tanah, dan di situlah kehadiran seorang tukang parkir terasa bukan sekadar membantu, melainkan menyelamatkan.

Kafe itu ternyata berlapis-lapis ruang. Ada yang harus dicapai dengan menaiki tangga, ada pula yang justru mengajak turun lebih dalam. Beberapa sudutnya langsung bersentuhan dengan hutan pinus, seolah batas antara bangunan dan alam sengaja dibiarkan kabur. Di salah satu sudut, kami menemukan penunjuk arah menuju sebuah air terjun—sekitar 300 meter ke bawah, dengan nama yang terdengar seperti potongan bahasa Korea. Saya memilih tidak menyebut nama tempat itu; biarlah pengalaman ini tetap menjadi cerita, bukan promosi.

Kami memilih meja yang menghadap langsung ke hutan. Saat itu, kabut turun cukup tebal, menciptakan suasana yang nyaris surealis—seolah kami sedang duduk di dalam lukisan yang belum selesai. Kami memesan makanan, lalu bergantian menunaikan salat dhuhur. Ketika hidangan datang, ritual kecil kami dimulai: memotret, mengabadikan, seakan ingin memastikan momen ini benar-benar terjadi.

Ternyata, diam-diam salah satu dari kami memesan kue sepotong. Tulisan “Happy Birthday” di piring kue itu menjadi penanda bahwa perjalanan ini juga membawa perayaan kecil. Kami tertawa, menyanyikan lagu sederhana, foto dan video, lalu kembali pada makanan dan percakapan yang mengalir ringan.

Setelah selesai makan, saya bertanya pada petugas kafe apakah kami bisa membayar nanti, setelah dari air terjun. Ia menjawab santai: tidak masalah. Jawaban itu sederhana, tetapi menyiratkan sesuatu—sebuah kepercayaan, atau mungkin keyakinan bahwa jalur menuju air terjun itu hanya berujung kembali ke tempat ini. Dan benar saja, itu adalah air terjun “private”—aksesnya seolah dimiliki sepenuhnya oleh kafe tersebut.

Kami menuruni jalur setapak yang tampak baru dibangun. Bata merah tersusun rapi, pagar kayu di beberapa titik dicat merah menyala, masih segar. Jalan itu berkelok, terus menurun, membawa kami semakin jauh dari keramaian, semakin dekat pada suara air yang perlahan membesar.

Hingga akhirnya kami tiba. Sebuah air terjun berdiri di hadapan kami, dengan jembatan merah membentang di depannya—tempat yang seolah sengaja disiapkan untuk berhenti, memandang, dan mengabadikan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya kami, suara air, dan hutan yang diam.

Momen itu terasa ganjil sekaligus utuh. Tak direncanakan, tak diantisipasi, namun justru itulah yang membuatnya bermakna. Barangkali, dalam perjalanan seperti ini, yang kita cari bukan sekadar tempat, melainkan kemungkinan—bahwa sesuatu yang tak kita duga bisa hadir, dan diam-diam mengubah cara kita mengingat hari itu.

Anak muda sekarang menyebutnya: ga expect. Bukan berarti tak sesuai harapan, tapi justru melampaui harapan. Saya menyebutnya: hadiah dari perjalanan yang mempercayai instingnya sendiri.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"