2020 MDPL

-(Selasa, 31 Maret 2026)-

Dan kami pun bergeser. Istilah itu, yang belakangan akrab di telinga anak muda, terasa pas untuk menggambarkan perpindahan kecil setelah sebuah pengalaman dianggap cukup—atau justru belum selesai, sehingga perlu ruang lain untuk melanjutkan percakapan. Siang itu, setelah puas menikmati kafe di hutan pinus dengan air terjunnya yang sunyi, kami memutuskan untuk bergerak lagi. Bukan sekadar berpindah tempat, tetapi seperti membuka bab berikutnya dari perjalanan yang sama.

Jika sebelumnya kami berada di wilayah Jawa Timur, kali ini kami ingin menyeberang rasa ke Jawa Tengah. Sekali lagi, insting mengambil alih peran peta. Tanpa banyak perencanaan, kami menemukan sebuah kafe yang mengklaim dirinya sebagai yang tertinggi di Jawa Tengah—berdiri di ketinggian 2020 mdpl. Klaim itu mungkin bisa diperdebatkan, tetapi bagi kami, angka itu sudah cukup menjadi undangan.

Tempat-tempat baru memang selalu membawa semacam energi yang sulit dijelaskan. Ada kesegaran yang bukan hanya berasal dari udara, tetapi dari kemungkinan—bahwa kita bisa merasakan sesuatu yang berbeda, walau hanya sejenak. Barangkali itulah yang terus dicari manusia: bukan sekadar perubahan, tetapi perpindahan makna. Sebab sering kali, kejenuhan bukan lahir dari apa yang kita lakukan, melainkan dari di mana kita terus-menerus berada. Bahkan rutinitas baru, dekorasi baru, atau orang baru pun tak selalu mampu mengusirnya jika ruangnya tetap sama. Maka ketika kesempatan untuk berpindah datang, bagi jiwa yang gemar mengembara, itu terasa seperti anugerah untuk menyegarkan cara kita memandang hidup.

Perjalanan menuju kafe itu sendiri sudah menjadi pengalaman tersendiri. Kami harus berhenti sejenak, memberi jalan bagi mobil dari arah berlawanan. Jalurnya sempit—hanya cukup untuk satu kendaraan. Tanjakan curam dan kabut tebal yang menggantung rendah sempat memantik kegamangan. Ada naluri purba yang tiba-tiba bangkit, mengingatkan bahwa ketinggian dan keterbatasan selalu menyimpan risiko. Namun, justru di situlah tekad diuji: apakah kami akan berhenti pada rasa ragu, atau terus melanjutkan menuju apa yang sudah terbayang di kepala.

Dan kami memilih melanjutkan.

Akhirnya kami tiba di puncak. Ternyata tempat itu tidak sepi—cukup ramai oleh pengunjung yang barangkali memiliki dorongan yang sama: mencari sesuatu yang berbeda di atas sana. Kami menemukan satu sudut dengan sofa yang nyaman, tempat kami bisa duduk dan memandang siang yang diselimuti kabut. Tak lama kemudian, hujan turun deras, seperti menutup perjalanan hari itu dengan cara yang tenang sekaligus tegas.

Di ketinggian itu, kami tidak hanya berpindah tempat. Kami seperti diajak memahami bahwa setiap langkah menjauh dari yang biasa adalah upaya mendekat pada sesuatu yang lebih dalam—meski hanya sebentar, meski hanya singgah.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"