Daya sinema

-(Jumat, 23 Januari 2026)-

Saya terkesan oleh sebuah film yang baru saja saya tonton. Bukan semata karena kisah tokoh utamanya, melainkan oleh fakta-fakta lain yang bekerja diam-diam namun kuat dalam menopang cerita.

Film itu menampilkan sebuah hotel di Maroko—semacam kamp kreatif bagi para penulis novel. Di sana mereka berkumpul, berbagi gagasan, berpesta secukupnya, berwisata, dan tentu saja menulis. Sebuah ruang yang bukan hanya fisik, tetapi juga batiniah: tempat ide-ide bertumbuh. Hotel itu berdiri di kawasan yang sunyi, dikelilingi alam yang indah, jauh dari hiruk-pikuk, namun justru terasa hidup. Sejak lama saya membayangkan bisa berada di tempat seperti itu—menyepi beberapa waktu, menuntaskan sebuah buku, lalu pulang dengan kepala dan hati yang penuh.

Yang membuatnya semakin menggoda, film itu tidak berhenti pada lanskap alam. Ia juga menghadirkan kehidupan masyarakatnya: suasana kota, pasar yang riuh, ritme sosial yang khas, hingga pantai yang melengkapi pengalaman. Sebuah paket perjalanan yang terasa utuh. Dalam imajinasi saya, tempat itu ideal untuk ditinggali sementara bersama pasangan—berlibur, bekerja, dan hidup perlahan. Jujur saja, saya mengalami semacam FOMO: rasa ingin yang kuat untuk berada di sana, bukan hanya melihatnya di layar.

Di titik itu saya sadar, film tersebut berhasil. Ia membujuk saya, tanpa paksaan, untuk memiliki keinginan mengunjungi Maroko. Ia memperkenalkan saya pada kemungkinan-kemungkinan ruang, pada sisi lain sebuah negeri yang sebelumnya samar. Saya menjadi tahu, dan lebih dari itu, menjadi paham.

Barangkali inilah salah satu tujuan utama film: bukan sekadar menceritakan perjalanan tokoh utama, melainkan juga menyuguhkan latar tempat dan kehidupan sosial suatu wilayah secara hidup. Film bekerja sebagai corong literasi—dan, ya, juga propaganda budaya—yang halus namun efektif. Ia mendidik tanpa terasa menggurui.

Dari sini pula saya semakin percaya bahwa film adalah medium yang sangat kuat. Ia bisa digunakan untuk tujuan-tujuan mulia, tetapi juga sebaliknya: menanamkan doktrin, membentuk dogma, atau menggiring cara pandang tertentu. Kekuatan ini tak bisa dipandang remeh.

Karena itu, rasanya wajar jika saya sampai pada kesimpulan berikut: pemerintah semestinya lebih serius menggarap film. Bukan sekadar memproduksi film horor yang miskin makna, tetapi mendorong lahirnya karya-karya sinematik yang mampu menghadirkan sejarah, budaya, dan keindahan negeri ini kepada dunia. Film yang bukan hanya ditonton, tetapi juga tinggal lama di benak penontonnya.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"