Air kuasa

-(Selasa, 13 Januari 2026)-

Siapakah yang hari ini masih meminum air putih hasil memasak sendiri? Barangkali masih ada—terutama di desa-desa. Namun di kota, jumlahnya kian sedikit. Kita hidup dalam ketergantungan tinggi pada air minum galon atau isi ulang. Padahal air adalah kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan manusia. Ketergantungan ini, disadari atau tidak, menunjukkan betapa rentannya kita terhadap pasokan air minum.

Narasi semacam ini mungkin bukan hal baru. Bisa jadi sudah lama dipahami, bahkan dimanfaatkan, oleh mereka yang jeli membaca peluang. Sebab bisnis air adalah bisnis cuan. Setiap hari, setiap jam, setiap orang membutuhkan air minum.

Ingatan saya kembali ke masa kecil. Dulu, ibu saya memasak air di panci besar di atas dapur tanah, dengan kayu bakar sebagai sumber api. Air diambil dari sumur. Ditimba, lalu ditampung dalam gentong. Untuk memasak nasi atau sayur, ibu mengambil air dari gentong itu. Untuk mandi dan mencuci pakaian, kami kembali ke sumur—menimba air dengan tenaga tangan sendiri.

Lalu teknologi datang perlahan. Mulai dari pompa air manual hingga akhirnya listrik masuk ke dusun kami. Sejak itu, kami tak lagi menimba air. Cukup menyalakan mesin pompa, air mengalir sendiri. Sumur galian tak lagi dibutuhkan; cukup menanam pipa hingga kedalaman tertentu, air bisa disedot ke atas. Perlahan, sumur-sumur itu ditutup. Kini, jarang sekali rumah yang masih memilikinya.

Perubahan tak berhenti di situ. Entah karena pengaruh iklan, pertimbangan kepraktisan, atau sekadar rasa malas, rumah tangga pelan-pelan berhenti memasak air sendiri. Mereka membeli galon dan dispenser. Bisa jadi generasi hari ini bahkan tak lagi tahu cara memasak air. Atau tanda-tanda air yang benar-benar sudah masak dan layak diminum.

Faktor kesehatan pun ikut berperan. Saya ingat betul, panci khusus memasak air di rumah kami selalu berkerak. Air sumur di tempat kami mengandung kapur. Saat itu muncul kekhawatiran—jangan-jangan kelak berdampak pada kesehatan, seperti batu di saluran kemih. Pengetahuan masyarakat bertambah. Kesadaran kesehatan meningkat. Pilihan pun bergeser ke air galon.

Padahal sebelumnya, ketika kehausan saat bermain, saya dan teman-teman cukup mendatangi sumur warga. Menimba air, lalu langsung meminumnya dari ember. Aneh memang, tapi kami nyaris tak pernah sakit. Mungkin tubuh kami kala itu masih “kebal” terhadap bakteri dan virus. Atau mungkin standar hidup memang belum seketat sekarang.

Ketika pemerintah mulai gencar mengedukasi pentingnya memasak air sebelum diminum, kebiasaan itu pun terbentuk dan mengakar. Namun zaman terus bergerak. Teknologi berkembang. Kepentingan bisnis ikut masuk. Lalu lahirlah perusahaan air minum dalam kemasan—dengan propaganda yang rapi dan meyakinkan—yang perlahan mengubah kebiasaan masyarakat.

Di kota-kota besar, situasinya bahkan lebih tegas. Air PDAM kerap tak memberi rasa aman untuk dikonsumsi. Ia cukup untuk mandi dan mencuci, tetapi untuk diminum, masyarakat memilih air galon atau isi ulang. Pilihan itu terasa rasional, meski konsekuensinya jarang kita pikirkan lebih jauh.

Di titik inilah kita sebenarnya berada dalam posisi rawan. Kita bisa berandai-andai: bagaimana jika suatu hari sumber-sumber mata air dikuasai oleh segelintir pihak? Bagaimana jika air—yang seharusnya menjadi hak dasar—harus dibeli dengan harga yang tak bisa kita tawar?

Barangkali bayangan itulah yang membuat banyak elit pengusaha merambah bisnis air minum. Mereka paham betul: siapa menguasai air, menguasai hajat hidup orang banyak.

Di sinilah alarm bagi negara seharusnya berbunyi. Pemerintah mesti hadir mengatur tata kelola air dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai masyarakat kehilangan akses terhadap air minum. Atau lebih buruk lagi, dipaksa membeli air dengan harga yang mencekik.

Jangan sampai suatu hari kita menyaksikan manusia-manusia kehausan di pinggir sungai—air mengalir di depan mata, tetapi hak atasnya tak lagi mereka miliki.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"