Menyesali keuntungan

-(Selasa, 20 Januari 2026)-

Jika hati tak cukup kuat, yang tersisa dari investasi—apa pun hasilnya—adalah penyesalan. Ini bukan cerita segelintir orang, melainkan pengalaman mayoritas pelaku investasi. Untung atau rugi, pada akhirnya keduanya bisa bermuara pada rasa yang sama: menyesal. Hanya kadarnya yang berbeda.

Saat rugi, penyesalan hampir tak perlu dijelaskan. Ia datang dengan sendirinya, jelas sebab-musababnya. Yang justru lebih menggelitik adalah penyesalan ketika investasi itu untung. Bagaimana mungkin sesuatu yang menghasilkan keuntungan tetap melahirkan sesal?

Jawabannya sering kali sederhana, namun pahit: karena merasa terlambat. Kenapa tidak sejak dulu berinvestasi? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak membeli ketika harganya masih murah? Kenapa nominalnya hanya segitu? Seandainya lebih banyak, tentu keuntungannya lebih besar. Di sinilah penyesalan mengambil bentuk lain—bukan lahir dari kerugian, melainkan dari keserakahan.

Begitulah manusia. Ketika sesuatu yang diinginkan belum tercapai, ia merasa kurang. Namun saat keinginan itu terwujud, rasa cukup justru menjauh. Muncul keinginan baru, lebih besar, lebih tinggi, melampaui titik sebelumnya. Siklus ini berulang tanpa henti, seolah kepuasan hanyalah ilusi yang selalu selangkah di depan.

Pertanyaannya kemudian: mengapa sebagian besar manusia menjadi seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi dalam diri manusia?

Penjelasan evolusioner barangkali mampu memberi gambaran awal—bahwa dorongan untuk terus “mengumpulkan” adalah mekanisme bertahan hidup. Namun penjelasan ini terasa belum sepenuhnya memuaskan. Ada wilayah lain yang menawarkan tafsir lebih dalam, yakni agama. Di sanalah sifat dasar manusia dibedah: kerakusannya, hawa nafsunya, serta ketertarikannya yang berlebihan pada kenikmatan dunia.

Pada titik ini, pertanyaan Immanuel Kant—jika saya tidak keliru mengingatnya—menjadi relevan: bagaimana jika semua orang melakukan hal yang sama? Apa yang akan terjadi bila keserakahan dijadikan prinsip universal? Di sanalah etika dan moral menemukan urgensinya. Ia hadir bukan untuk meniadakan sifat dasar manusia, melainkan untuk menatanya—agar kekacauan yang lahir dari kerakusan tidak menjadi hukum yang menguasai segalanya.

Mungkin, penyesalan dalam investasi bukan semata soal angka dan waktu. Ia adalah cermin kecil dari persoalan yang jauh lebih besar: tentang manusia yang terus bernegosiasi dengan hasratnya sendiri, dan tentang upaya tanpa henti untuk belajar merasa cukup.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"