Pengulangan hidup

-(Rabu, 18 Februari 2026)-

Ini tentu sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa: pada satu waktu, hidup adalah pengulangan.

Begitulah yang terjadi pada pagi itu. Saya kembali melewati jalur yang sama dan sejenak berhenti di tempat yang sama pula, dengan rutinitas yang pernah saya jalani lima hingga enam tahun silam.

Nyaris tak ada yang berubah, baik kondisi maupun pemandangannya. Hanya di beberapa titik tampak bangunan baru berdiri. Selebihnya tetap sama.

Itulah jalur tempat saya dulu pergi dan pulang bekerja. Sebuah jalur yang dahulu saya pilih agar bisa menghemat pengeluaran ongkos jalan tol.

Saya sempat grogi ketika melintasi jalur itu, terutama saat jalanan mulai menanjak. Setelah sekian lama, kemampuan mengendarai di tanjakan dengan antrean mobil yang berjalan pelan cukup menegangkan, terutama ketika mobil di depan berhenti mendadak. Ini adalah situasi di mana penyelarasan antara kopling dan gas harus benar-benar pas. Padahal dulu, semua terasa santai dan saya sudah paham betul bagaimana harus bersikap di tanjakan itu. Namun begitulah, ketika sebuah kemampuan tak lagi diasah atau lama tak digunakan, ia menuntut penyesuaian kembali.

Mushola dan toilet itu masih juga sama. Saya kembali mengulangi rutinitas mingguan masa lalu: berhenti sejenak untuk melepaskan beban, lalu kembali berkendara, melaju di jalan tol dengan pemandangan yang indah itu.

Barangkali itulah satu-satunya jalan tol dengan pemandangan pegunungan yang elok. Ditambah dengan topografi jalan tol yang naik turun, perjalanan ini menuntut kehati-hatian dan kewaspadaan lebih.

Pemandangan itu pun masih sama seperti lima hingga enam tahun silam. Gunung itu masih berada di tempat yang sama. Jembatan panjang dan turunan tajam itu juga tak berubah.

Meski banyak hal masih serupa, kini ada tujuan yang berbeda. Bukan dalam arti tujuan sebagai dampak, melainkan tujuan dalam arti lokasi atau tempat.

Namun kenyataannya, tujuan perjalanan ini tetap sama seperti perjalanan lima hingga enam tahun silam, bahkan sama pula dengan tahun-tahun yang lebih jauh ke belakang.

Karena ini adalah tentang perjalanan untuk sebuah penghidupan keluarga, sekaligus—barangkali—sebuah pencarian makna.

Maka tak ada yang benar-benar berubah dari kepergian ini. Dan tampaknya, untuk beberapa masa ke depan pun, tak akan banyak berubah. Sebab kepergian yang selalu sama itu membuat kepulangan juga sama. Sebagaimana pergi, pulang pun tak pernah berubah. Ia selalu sama: pulang pada hatinya. Hati yang selalu setia mengantar saya pergi.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"