Menang elektoral
-(Kamis, 5 Februari 2026)-
Apa sebenarnya yang perlu dilakukan seorang tokoh politik agar mampu terus memenangkan kontestasi elektoral?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Setidaknya, ia harus selalu hadir di benak siapa pun yang berniat menapaki jalan politik. Politik bukan sekadar soal niat baik atau idealisme luhur; ia adalah medan panjang yang menuntut strategi, ketekunan, dan kesadaran diri. Lalu, adakah resep yang benar-benar ampuh untuk membuat masyarakat terus menjatuhkan pilihan?
Dari pengamatan orang luar—yang tak pernah benar-benar berkecimpung langsung dalam dunia politik—ada beberapa kunci yang tampak paling relevan.
Pertama, soal dana. Ini kerap disalahpahami sebagai pintu masuk politik uang. Padahal, maknanya jauh lebih sederhana sekaligus tak terelakkan: setiap kerja politik membutuhkan ongkos. Ongkos untuk bergerak, untuk hadir, untuk menjumpai. Biaya transportasi agar seorang tokoh bisa menyapa masyarakat secara langsung, hingga hal-hal kecil yang tampak sepele namun nyata adanya. Seperti mesin, politik tak bisa berjalan hanya dengan niat; ia butuh bahan bakar agar tetap bergerak.
Kedua, menekan egoisme. Seorang politisi sejatinya hidup dari dukungan banyak orang. Karena itu, ia mesti menempatkan dirinya pada posisi “membutuhkan”, bukan “dibutuhkan”. Di titik ini, ego menjadi beban yang harus ditanggalkan. Politik adalah seni merangkul, bukan menonjolkan diri. Semakin tinggi ego, semakin sempit ruang pelukan.
Ketiga, silaturahmi. Inilah mungkin kunci paling klasik sekaligus paling menentukan. Politik, pada akhirnya, adalah jejaring manusia. Seberapa luas seorang tokoh bersilaturahmi—terutama dengan mereka yang memiliki pengaruh dan pengikut—besar kemungkinan berbanding lurus dengan suara yang kelak ia peroleh. Silaturahmi bukan agenda musiman menjelang pemilu, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kepercayaan. Relasi yang dirawat sejak jauh hari akan berbuah lebih kokoh daripada pertemuan yang dipaksakan di ujung waktu.
Keempat, dukungan tim media. Di era percakapan publik yang serba cepat, relevansi adalah mata uang yang mahal. Tugas media—baik arus utama maupun media sosial—adalah menjaga seorang tokoh tetap hadir dalam kesadaran publik. Bahkan isu atau peristiwa kontroversial kadang diperlukan sebagai percikan api agar perhatian tetap menyala. Tentu saja, api ini harus dijaga agar menghangatkan, bukan membakar habis.
Kelima, kemampuan mendengarkan. Ironisnya, ketika seorang politisi tengah mencari dukungan, yang paling ia butuhkan bukanlah kepiawaian berbicara, melainkan kerendahan hati untuk diam dan mendengar. Aspirasi rakyat tidak selalu ingin dipatahkan dengan pidato; sering kali ia hanya ingin diakui. Dari mendengar lahir empati, dan dari empati tumbuh kepercayaan. Di sinilah janji politik menemukan konteksnya—bukan sekadar kata-kata, tetapi respons atas kegelisahan nyata. Kemampuan membuat orang merasa nyaman berada di dekatnya sering kali lebih menentukan daripada isi pidato itu sendiri.
Terakhir, kesabaran. Ini mungkin syarat yang paling berat. Sabar menghadapi beragam karakter masyarakat, sabar menerima kritik, cemoohan, tuduhan, bahkan penghinaan. Sabar menjaga tubuh tetap prima di tengah jadwal yang melelahkan. Dalam politik, ungkapan “sabar ada batasnya” tampaknya perlu ditinjau ulang. Yang dibutuhkan justru kesabaran tanpa garis akhir. Termasuk kesabaran ketika waktu untuk diri sendiri dan keluarga kian menyusut, sebab politik menuntut kehadiran yang nyaris tanpa jeda di tengah masyarakat.
Begitulah, enam kunci yang tampak perlu dimiliki seorang politisi. Mungkin ini lahir dari sudut pandang orang yang berada di luar lingkar kekuasaan, tetapi justru dari jarak itulah gambaran ini terlihat lebih jernih. Sebuah pegangan sederhana—bukan jaminan kemenangan, tetapi peta jalan agar seorang tokoh tetap relevan, diterima, dan dipercaya dalam perjalanan panjang bernama politik.