Percakapan AI
-(Senin, 2 Februari 2026)-
Saya mengikuti beberapa video World Economic Forum (WEF) di Davos. Setidaknya ada empat video berisi percakapan yang menghadirkan tokoh-tokoh dunia. Tema yang diangkat sama: akal imitasi, atau AI.
Video pertama yang saya tonton menghadirkan Elon Musk. Tidak semua perkataannya saya ingat. Namun, ada satu hal yang terekam kuat di pikiran saya, yaitu visinya tentang kehidupan antarplanet. Ini tentu visi yang luar biasa. Meski gambaran semacam itu sudah lama hadir dalam film-film fiksi ilmiah, barangkali dialah satu-satunya orang yang bekerja secara nyata untuk mewujudkannya melalui perusahaan SpaceX.
Video kedua menampilkan Jensen Huang. Jika Anda belum tahu siapa dia, ada banyak informasi tentang dirinya di internet. Ia berbicara tentang infrastruktur AI, tentu dengan berbagai percakapan pendukung lainnya. Inti yang saya tangkap, ia memandang infrastruktur AI sebagai fondasi yang akan menentukan kemajuan ekonomi suatu negara. Infrastruktur ini, menurutnya, harus ditempatkan sejajar dengan listrik dan air. Setidaknya, itulah yang saya ingat dari percakapan tersebut.
Video selanjutnya berisi paparan Yuval Noah Harari yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Di sini, nada pembicaraan berubah. Ia lebih banyak mengungkapkan bahaya AI jika tidak dikendalikan sejak sekarang.
Harari mengangkat pemikiran Descartes: “Aku berpikir maka aku ada.” Inilah yang selama ini membedakan manusia dari makhluk lainnya. Produk dari berpikir adalah perkataan dan tulisan—semuanya berbentuk kata-kata. Saat ini, AI mampu melakukan hal yang sama: ia menghasilkan kata-kata. Jika demikian, maka AI pun bisa dikatakan berpikir. Bahkan, dalam banyak hal, kemampuannya jauh melampaui manusia.
Kekhawatiran Harari muncul ketika AI, misalnya, diberi kesempatan untuk berdiri sebagai entitas hukum. Ia memberikan contoh perusahaan, yang bisa menjadi entitas hukum di pengadilan. Seolah-olah perusahaan yang abstrak itu bertindak sebagai individu manusia. Padahal kita tahu, semua itu digerakkan oleh pikiran para direksinya. Lalu bagaimana dengan AI yang mampu berpikir sendiri? Bayangan itu sungguh menggelisahkan.
Video terakhir yang saya tonton adalah percakapan dengan tiga narasumber, salah satunya Bill Gates. Mereka banyak berdiskusi tentang pemanfaatan AI dalam penyediaan layanan kesehatan di Rwanda. Yang saya tangkap dari diskusi tersebut, karena keterbatasan tenaga medis, AI menjadi salah satu pilihan solusi—terutama untuk menangani pekerjaan administratif. Semoga saya tidak keliru menangkap poin ini.
Dari keempat video percakapan itu, saya kemudian berpikir tentang apa yang saya lakukan dan alami selama ini. Betapa terlambatnya saya mengikuti percakapan dunia. Barangkali inilah pertama kalinya saya benar-benar bisa menyimak percakapan tokoh-tokoh dunia terkini. Saya tentu tahu penyebabnya: kemampuan bahasa Inggris saya yang belum memadai.
Kini, kendala itu mulai teratasi melalui terjemahan otomatis yang disediakan YouTube. Hasil terjemahannya semakin baik dan memudahkan pemahaman. Padahal, sejak lama fitur itu sudah ada. Hanya saja, dulu hasil terjemahannya masih berantakan—kata demi kata yang ketika dibaca sebagai satu kalimat justru membingungkan.
Artinya, saya tak lagi memiliki kendala bahasa untuk mengikuti percakapan tokoh-tokoh dunia.
Refleksi lain yang ingin saya sampaikan adalah betapa kita, sebagai masyarakat negeri ini, masih saja disibukkan dengan isu-isu sepele, di tengah percakapan dunia seperti yang tergambar dalam video-video tersebut. Jaraknya terasa begitu jauh. Mampukah kita mengejarnya?
Melihat dan membaca percakapan netizen negeri ini di media sosial, saya kerap merasa pesimis.
Namun demikian, saya berharap rasa pesimis ini justru dapat melecut pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya untuk segera berbenah ke arah yang lebih positif.