Puasa sungguhan
-(Jumat, 27 Februari 2026)-
Sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu, kali ini saya ingin mengulangnya lagi: berpuasa dengan sungguh-sungguh hingga berat badan saya turun setidaknya lima kilogram. Targetnya jelas. Pengalamannya pun sudah ada. Artinya, saya sebenarnya tahu apa yang mesti dilakukan.
Saya mesti benar-benar berpuasa. Bukan sekadar memindahkan jam makan.
Di titik inilah banyak orang—termasuk saya dulu—kerap keliru. Secara logika, puasa seharusnya mengurangi frekuensi makan. Jika hari biasa kita makan tiga kali—sarapan, makan siang, makan malam—maka ketika berpuasa semestinya tinggal dua: berbuka dan sahur. Sederhana. Rasional. Terukur.
Namun yang terjadi sering kali sebaliknya.
Frekuensi makan tetap tiga kali, bahkan bisa lebih. Setelah berbuka, ada jeda tarawih yang diikuti makan lagi. Belum lagi aneka takjil sebelum makan besar. Tanpa sadar, kita tidak mengurangi asupan, hanya menggeser waktunya. Puasa berubah menjadi sekadar penjadwalan ulang kalori.
Mari kita jujur melihat meja kita saat berbuka: kolak, es teh manis, es campur, es teler, gorengan, lalu makan besar, ditutup kue basah dan aneka camilan. Sebagian besar karbohidrat sederhana dan gula. Lonjakan energi yang cepat, disusul penumpukan yang pelan tapi pasti. Sahur pun sering tak jauh berbeda—karbohidrat tinggi dengan dalih “agar kuat seharian”.
Akhirnya ironi terjadi. Satu bulan berpuasa, bukan turun, justru naik berat badan.
Di sini saya menyadari sesuatu: masalahnya bukan pada puasanya, tetapi pada cara kita memaknainya. Kita menahan lapar sepanjang hari, lalu merasa berhak membalasnya di malam hari. Seolah-olah tubuh adalah musuh yang harus dikompensasi, bukan sahabat yang perlu dijaga.
Padahal jika tujuan saya adalah menurunkan berat badan, maka pendekatannya harus logis dan konsisten. Artinya, mengurangi daftar makanan tadi. Makan secukupnya. Tetap menjaga gizi seimbang. Tidak berlebihan pada karbohidrat dan gula. Puasa mestinya menjadi momentum pengendalian, bukan pesta balas dendam.
Memang tidak mudah. Godaan begitu sistematis. Industri kuliner tahu benar bagaimana membungkus gula dengan nostalgia, bagaimana mengemas gorengan dengan kehangatan, bagaimana menjual “hadiah setelah seharian berpuasa”. Kapitalisme lihai memainkan psikologi lapar. Kita diberi narasi bahwa setelah menahan diri, kita pantas menikmati semuanya.
Dan kita pun menurut.
Belum lagi jika olahraga turut diliburkan dengan alasan berpuasa. Kombinasi surplus kalori dan minus gerak adalah rumus pasti kenaikan berat badan. Maka kali ini saya memilih tetap bergerak. Setidaknya berjalan kaki 30 menit hingga satu jam menjelang berbuka.
Bagi saya, jalan kaki bukan hanya soal membakar kalori. Ia menjadi ritual sunyi. Ngabuburit yang bermakna. Cara sederhana untuk berpuasa dari gadget. Saat melangkah, saya tak membuka layar. Tubuh bergerak, pikiran mengendap. Saya tidak bisa menikmati gawai sambil berjalan, dan itu justru berkah kecil yang jarang disadari.
Pada akhirnya, kuncinya memang klasik: konsisten.
Kita sering mencari metode yang rumit, padahal yang paling sulit adalah mengulang keputusan kecil setiap hari. Menolak satu gorengan. Menghentikan diri pada porsi yang cukup. Tetap berjalan meski lelah. Konsistensi adalah jembatan antara niat dan hasil, namun justru di sanalah kebanyakan orang tersandung.
Puasa, bagi saya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan mengelola diri. Seperti membersihkan kaca yang buram, sedikit demi sedikit disiplin menghapus kabut kebiasaan lama. Jika dilakukan dengan benar, bukan hanya berat badan yang turun, tetapi juga ego yang perlahan menjadi lebih ringan.
Dan mungkin di situlah makna puasa yang sesungguhnya.