Candu seremoni
-(Senin, 4 Mei 2026)-
Barangkali inilah yang membuat banyak pejabat begitu betah—bahkan ketagihan—berada dalam acara-acara seremonial. Ada semacam kenikmatan yang sulit dijelaskan, tetapi terasa sangat nyata.
Bayangkan sebuah acara resmi digelar. Di depan panggung utama, telah disiapkan deretan kursi khusus dengan tata letak yang nyaris sakral: siapa duduk di barisan paling depan, siapa di belakang, semua diatur dengan presisi. Bahkan ada yang ditempatkan di atas panggung, duduk berjajar, menghadap lautan manusia yang menyaksikan mereka. Dalam momen seperti itu, jarak antara pejabat dan rakyat seolah dipentaskan secara visual—bahwa ada mereka yang dianggap penting, dan ada yang hanya menjadi penonton.
Belum lagi ritual kecil yang terus diulang dalam setiap acara. Nama mereka disebut satu per satu oleh pembawa acara dengan gelar yang lengkap. Para pemberi sambutan pun sering melakukan hal serupa, menyapa mereka dengan penuh penghormatan. Di hadapan khalayak, identitas mereka dipertegas: siapa mereka, apa jabatannya, seberapa tinggi posisinya. Seolah-olah panggung itu bukan sekadar tempat berlangsungnya acara, melainkan cermin besar yang memantulkan status sosial mereka.
Mungkin di situlah letak candunya. Bukan semata pada substansi acara, melainkan pada sensasi dilihat, dikenali, dan diperlakukan istimewa. Acara puncak hari jadi daerah, peresmian proyek, hingga seremoni-seremoni lain yang sering kali berlangsung repetitif, bisa jadi bukan hanya agenda formal pemerintahan. Ia juga menjadi ruang pertunjukan kekuasaan—tempat para pejabat hadir di tengah masyarakat bukan untuk bekerja, melainkan untuk memastikan bahwa eksistensi mereka tetap terlihat.
Ada rasa bangga yang diam-diam dipelihara dari situ: perasaan berada di puncak, berdiri di tempat yang lebih tinggi, disorot, dihormati, dan diakui. Dan seperti banyak hal lain dalam hidup, pengakuan publik bisa menjadi candu yang lebih kuat daripada materi.
Barangkali itu pula yang menjelaskan mengapa banyak orang tertarik masuk ke dunia politik. Menjadi kaya sebagai pengusaha ternyata belum tentu memberi pengalaman simbolik semacam itu. Uang bisa membeli kenyamanan, tetapi tidak selalu menghadirkan tepuk tangan, penyebutan nama di podium, atau kursi kehormatan di barisan depan. Karena itu, sebagian orang memilih masuk ke arena politik, bertarung memperebutkan kursi kepala daerah atau anggota legislatif—bukan hanya untuk memperoleh kuasa, tetapi juga untuk menikmati panggungnya.
Sebab pada akhirnya, jabatan publik sering kali tidak berhenti pada urusan melayani masyarakat. Dalam banyak kesempatan, ia juga menjelma menjadi panggung megah tempat seseorang merasa dirinya lebih penting dari orang lain. Dan barangkali, di situlah ironi paling sunyi dari kekuasaan: ketika pelayanan perlahan berubah menjadi pertunjukan.