Kapal cepat
-(Senin, 6 April 2026)-
Ruang dalam kapal cepat itu berlapis, terdiri dari dua tingkat, namun tidak sepenuhnya terpetakan dalam tiga kelas yang rapi: VIP, eksekutif, dan semacam ekonomi. Di satu ruang yang saya sebut ekonomi, udara terasa lebih hangat—nyaris panas—karena mungkin tak ada pendingin ruangan dan beberapa pintu dibiarkan terbuka. Sebaliknya, kelas VIP menjadi semacam oasis: dingin, lengang, dan nyaman. Saya sempat tersesat ke sana ketika mencari kursi, sebelum akhirnya menemukan bahwa tempat duduk saya berada di kelas eksekutif bawah.
Barangkali karena long weekend, kapal itu dipenuhi penumpang. Barang bawaan mereka berlimpah, sebagian tampak seperti barang dagangan. Lorong-lorong kapal, bahkan area tangga, berubah menjadi ruang transit barang—menyempitkan gerak, sekaligus menghadirkan riuh yang khas. Suasana itu mengingatkan saya bahwa perjalanan publik tak hanya memindahkan tubuh, tetapi juga membawa serta berbagai kepentingan yang saling berhimpitan.
Saya pernah menempuh rute ini sebelumnya—mungkin dengan kapal yang sama atau sejenis. Namun ingatan itu kini kabur, seperti foto lama yang warnanya memudar. Di situlah saya menyadari pentingnya menulis: sebagai jangkar bagi ingatan yang kian hari kian mudah hanyut dalam arus waktu.
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar meninggi, saya telah bersiap. Sebuah ransel saya isi dengan pakaian dan perbekalan secukupnya. Tiga hari mungkin terdengar singkat, tetapi tanpa persiapan, bahkan waktu yang pendek pun bisa terasa terlewat sia-sia—terlebih ketika tujuan perjalanan adalah sebuah pulau yang menyimpan kenangan.
Sekitar pukul enam pagi, saya melangkah keluar rumah menuju tepi jalan raya. Angkutan kota sudah beroperasi, dan tak sampai dua menit menunggu, satu unit datang menghampiri. Saya naik—itulah rencana A yang berjalan mulus. Saya sebenarnya telah menyiapkan rencana cadangan: ojek online sebagai plan B, atau meminta bantuan teman sebagai plan C. Namun pagi itu, semuanya terasa selaras tanpa perlu beralih rencana.
Dengan ongkos tujuh ribu rupiah dan waktu tempuh kurang dari lima belas menit, saya tiba di pelabuhan. Di sana, seorang menawarkan bantuan tiket, yang segera saya tolak karena sudah memilikinya. Dua loket tampak beroperasi: satu dengan antrean panjang—kemungkinan untuk kelas non-VIP—dan satu lagi yang nyaris kosong.
Saya menuju seseorang yang saya duga sebagai petugas check-in. Tanpa banyak tanya, saya menunjukkan bukti pemesanan di ponsel. Ia memprosesnya dan menyerahkan boarding pass. Proses yang sederhana, nyaris tanpa seremoni, tetapi cukup untuk mengesahkan langkah saya ke tahap berikutnya.
Sebelum mendekat ke kapal, saya harus memindai boarding pass di pintu otomatis. Namun perut yang kosong mengingatkan bahwa saya belum sarapan. Saya membeli nasi kuning berbungkus sterofoam dengan lauk ikan seharga lima belas ribu rupiah. Sempat ragu—makan dulu atau langsung masuk? Waktu keberangkatan masih satu jam lagi. Namun insting saya memilih bergerak maju.
Saya pun masuk, melewati deretan pelaku UMKM yang menjajakan makanan. Pisang rebus dan buras menarik perhatian saya, dan kembali saya membeli—seolah menambah bekal bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk rasa aman selama perjalanan.
Ketika akhirnya berada di dekat kapal, keraguan itu muncul lagi: masuk sekarang atau menunggu? Sekali lagi, saya mengikuti intuisi. Dan keputusan itu terbukti tepat. Mencari kursi di dalam kapal yang sama sekali baru bagi saya dan diantara kepadatan penumpang, bukan perkara mudah. Masuk lebih awal memberi saya ruang—secara harfiah—untuk menata posisi dan menyimpan barang.
Begitu berada di dalam, suasananya mengingatkan saya pada kereta api zaman dulu. Pedagang asongan lalu-lalang di lorong sempit, menawarkan barang dan makanan. Anehnya, di tengah kesemrawutan itu, mereka justru menjadi penunjuk arah yang paling sigap. Mereka membantu penumpang menemukan kursinya, termasuk saya, dengan cara yang spontan dan tanpa diminta.
Saat akhirnya duduk, saya mulai memahami lanskap perjalanan yang akan saya jalani. Saya menyiapkan diri—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Transportasi publik sering kali tak berjalan sesuai harapan. Di titik itu, penerimaan menjadi kunci. Dengan menerima, kita menghemat energi—menghindari gejolak emosi yang tak perlu.
Sekitar pukul delapan, kapal mulai bergerak, meninggalkan pelabuhan dan membawa kami menuju tujuan masing-masing. Pagi itu, saya menyadari satu hal sederhana: perjalanan ini bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi juga penggenapan pengalaman—darat, udara, dan kini laut. Sebuah lintasan yang, jika tak dituliskan, mungkin suatu hari akan kembali mengabur dalam ingatan.