Roda takdir
-(Sabtu, 18 April 2026)-
Ada masa ketika saya memandang sebuah tugas sekadar sebagai kerja administratif—kering, berulang, dan tidak menantang secara intelektual. Pada masa itu, saya lebih sering bertanya, kerap meminta pendampingan, bahkan tak jarang lupa apa yang seharusnya saya kerjakan. Bukan semata karena saya tak mampu, melainkan karena saya memilih untuk tidak sungguh-sungguh menaruh perhatian. Saya menempatkannya di pinggir kesadaran, kalah oleh pekerjaan lain yang saya anggap lebih penting, lebih strategis, lebih “bermakna”.
Barangkali, saat itu saya sedang menyusun prioritas. Saya percaya bahwa tidak semua hal layak mendapat porsi fokus yang sama. Seperti banyak pemimpin lain, saya cenderung mengarahkan energi pada hal-hal yang terlihat memiliki dampak besar dan potensi meninggalkan jejak. Dalam logika itu, tugas yang kini saya jalani dulunya tampak seperti bayang-bayang—ada, tetapi tidak cukup signifikan untuk didekati lebih dalam.
Namun hidup memiliki cara yang tak terduga dalam menyusun ulang prioritas kita. Kini, saya justru berdiri di posisi yang menuntut penguasaan penuh atas tugas yang dulu saya abaikan. Tidak lagi sebagai pelaksana yang bisa bertanya dan bergantung, tetapi sebagai pembina yang harus memberi arah. Situasi ini seperti cermin yang dipasang terlambat—memantulkan penyesalan yang pelan tapi pasti terasa. Seandainya dulu saya memberi ruang untuk memahami, mungkin langkah saya hari ini akan lebih ringan, lebih mantap.
Tetapi penyesalan, sebagaimana waktu, tidak pernah berjalan mundur. Ia hanya bisa diolah menjadi kesadaran baru. Kini, ketika tidak ada lagi alasan untuk mengalihkan fokus, saya justru menemukan ruang yang lebih luas untuk belajar. Waktu, tenaga, dan pikiran yang dulu tercerai-berai kini berkumpul pada satu titik yang sama—tugas yang dahulu saya anggap remeh.
Di situlah saya mulai memahami satu hal sederhana: hidup kerap menempatkan kita di tempat yang tidak kita pilih, tetapi justru di situlah kita dibentuk. Seperti roda yang terus berputar, kita kadang berada di bawah, melihat sesuatu dari sudut yang dulu tak kita hiraukan. Dan hanya dengan kelapangan hati, kita bisa menerima putaran itu tanpa getir.
Barangkali, menjadi ahli bukan selalu tentang pilihan sejak awal, tetapi tentang kesediaan untuk bertahan dan bertumbuh di tempat yang semula kita hindari. Dan dari situlah, perlahan-lahan, kita menemukan makna yang dulu tak sempat kita lihat.