Pasar ikan
-(Selasa, 21 April 2026)-
Ada banyak jenis ikan, berkilau dalam kesegaran yang nyaris masih bernapas. “Ikan segar, ikan segar, baru saja mati, di bawah bantal!” teriak seorang pedagang, setengah bercanda, setengah serius, seolah kematian pun bisa dipasarkan dengan gaya.
Saya sudah dua kali datang ke pasar itu—orang-orang menyebutnya TPI, tempat pelelangan ikan. Pada kunjungan kedua, saya melihat sendiri bagaimana boks-boks ikan diangkat dari perahu ke tepian jembatan, seperti denyut nadi yang tak pernah berhenti. Aktivitasnya padat, hampir berdesakan. Penjual berjejer, dari lapak permanen hingga yang seadanya di sepanjang tambatan perahu. Pembeli hilir-mudik, dan di antara semuanya, gerobak-gerobak ikan melintas tanpa kompromi, memaksa orang menepi. Di tempat itu, ruang bukanlah sesuatu yang diberikan—ia harus direbut, atau setidaknya dipinjam sebentar.
Bau amis tak terhindarkan, menempel di udara seperti identitas yang tak bisa disembunyikan. Namun anehnya, saya justru menyukai suasana ini. Ada sesuatu yang jujur dalam hiruk-pikuknya. Meski begitu, saya tak berani mengabadikannya dengan ponsel. Bukan karena tak indah, tetapi karena saya sadar: di tengah kerumunan seperti itu, menjadi terlalu terlihat bisa berarti mengundang perhatian yang tidak diinginkan. Naluri waspada saya bekerja tanpa diminta—tajam, diam, dan setia.
Saya menikmati memandangi ragam ikan yang sebagian besar belum pernah saya kenal. Bentuknya asing, warnanya mencolok, ukurannya kadang mengejutkan. Ada keinginan sederhana yang muncul: andaikan saya bisa memasaknya, saya ingin membawa pulang semuanya. Saya membayangkan rasa—dibakar dengan arang, atau direbus menjadi sup hangat. Namun keinginan, seperti ombak, perlu dibatasi agar tidak menenggelamkan.
Sejak berangkat, saya sudah menetapkan pilihan. Hari itu saya membeli ikan lure, setelah sebelumnya memilih ikan layang. Sempat tergoda untuk membeli cakalang, tetapi saya menahannya. Menunda, dalam hal ini, bukan kekurangan—melainkan cara menjaga kenikmatan tetap memiliki masa depan.
Bagi mereka yang tinggal jauh dari laut, harga ikan di tempat ini mungkin terasa murah—bahkan bisa dibandingkan dengan telur. Namun jika dilihat dari nilai gizi dan kualitas protein, ikan laut membawa sesuatu yang lebih murni: ia tumbuh dari alam, bukan dari pakan buatan. Ada rasa yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menenangkan.
Pasar itu tidak hanya menjual ikan. Di sudut-sudutnya, para pedagang sayur menawarkan pelengkap yang tak kalah penting. Di antara semuanya, daun kelor menjadi sesuatu yang menarik perhatian—terutama bagi mereka yang belum akrab dengannya. Saya pun sempat terkejut ketika pertama kali mencicipinya. Dalam kesederhanaan sayur bening, daun kelor menghadirkan rasa yang bersih, hampir seperti keheningan yang bisa dimakan.
Dan ketika sayur bening itu dipasangkan dengan ikan goreng, sambal bawang, serta perasan jeruk nipis, pengalaman makan berubah menjadi sesuatu yang utuh. Nasi dua piring pun terasa wajar, bukan berlebihan.
Di titik itu, saya menyadari: kenikmatan tidak selalu datang dari sesuatu yang rumit. Kadang, ia justru lahir dari pertemuan hal-hal sederhana—laut, api, dan tangan yang tahu cara meraciknya.