Balik gowes
-(Selasa, 30 Juni 2026)- Akhirnya saya membeli sepeda lipat. Merek dan harganya sengaja tidak saya sebutkan di sini. Setelah tiga tahun berhenti mengayuh, saya merasa seperti sedang kembali membuka pintu lama yang pernah saya tutup—dan di baliknya, ada jalanan kota, desa-desa di sekitar wilayah ini, serta ritme hidup yang dulu sempat akrab: memancal pedal. Maka dalam biografi singkat yang rutin saya tulis di opini-opini saya di media daring itu, saya tak lagi hanya menyematkan predikat walker . Saya menambah satu identitas baru: cyclist . Sebuah penanda kecil, tapi bagi saya cukup untuk menegaskan arah baru yang ingin saya jalani. Dorongan ini tidak tunggal. Ada alasan yang bersifat praktis: harga BBM non-subsidi yang kian menanjak membuat sepeda kembali terasa relevan, bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga strategi bertahan. Namun ada pula alasan yang lebih personal—keinginan untuk menjaga tubuh tetap bergerak, melatih daya tahan, dan mengembalikan tubuh pada disiplin yang sederhana: ...