Perang bintang
-(Selasa, 2 Juni 2026)- Saya mengenal dunia Star Wars bukan dari masa kecil, bukan pula dari trilogi klasik yang begitu diagungkan banyak orang. Saya masuk terlambat—melalui The Force Awakens , ketika sosok perempuan bernama Rey pertama kali muncul di layar bioskop. Dari situlah semuanya dimulai. Sebuah pintu kecil terbuka, lalu perlahan membawa saya masuk ke galaksi yang ternyata jauh lebih luas daripada sekadar perang luar angkasa, lightsaber, atau ledakan antarbintang. Awalnya saya mengira Star Wars hanyalah kisah tentang pahlawan melawan penjahat. Namun semakin mengikuti film-filmnya, saya sadar bahwa inti cerita ini justru sangat manusiawi. Ia berbicara tentang ketakutan, kekuasaan, kehilangan, harapan, dan pencarian makna hidup. Semua dibungkus dalam lanskap galaksi yang megah, tetapi denyut emosinya tetap terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di pusat kisah itu ada konsep bernama Force. Dalam semesta Star Wars, Force bukan Tuhan dalam pengertian agama-agama formal. Ia lebih...