Pagi berkelahi
Selain di film-film yang saya tonton, mungkin baru kali itu saya melihat perkelahian sungguhan tepat di depan mata. Bukan adegan yang sudah diatur, bukan pula sekadar gurauan yang kebablasan, melainkan dua orang yang benar-benar saling baku hantam. Dan seperti banyak hal yang saya temui saat berjalan pagi, peristiwa itu meninggalkan ruang refleksi yang cukup panjang.
Saat hendak memasuki jalan tersebut, saya sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Semacam firasat kecil bahwa suasana di sana terasa kurang aman. Di pinggir jalan saya melihat seorang anak muda duduk dengan sepeda motornya. Dari penampilannya, ada kesan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Di seberang jalan berdiri dua anak muda lain di dekat sepeda motor mereka. Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka lakukan. Pengalaman mengajarkan bahwa terlalu lama mengamati orang yang tidak kita kenal kadang justru mengundang persoalan yang tidak perlu. Maka saya memilih terus berjalan.
Namun beberapa detik kemudian situasinya berubah. Seorang anak muda keluar dari sebuah kios atau rumah yang berada tepat di dekat dua orang tadi. Tanpa banyak kata, ia langsung melayangkan pukulan kepada salah seorang dari mereka. Dalam sekejap, perkelahian pecah. Pukulan dibalas pukulan, tendangan dibalas tendangan. Keributan itu segera menarik perhatian warga sekitar yang berdatangan untuk meneriaki dan melerai mereka.
Saya hanya sempat menoleh sekilas sebelum melanjutkan langkah. Di tengah keramaian itu, saya mendengar seseorang mengatakan bahwa ada anak muda yang mabuk. Saya tidak tahu pasti kebenarannya, tetapi jika memang demikian, mungkin itulah pemicunya: seseorang yang kehilangan kendali, merasa tersinggung, lalu meledak dalam kekerasan.
Pemandangan itu mengingatkan saya pada satu pola yang sering berulang. Tidak sedikit perkelahian, baik di tempat hiburan maupun di lingkungan permukiman, berawal dari orang yang berada di bawah pengaruh alkohol. Ketika kesadaran menurun, kemampuan menimbang akibat ikut melemah. Keberanian yang muncul bukan lagi keberanian yang lahir dari pertimbangan matang, melainkan dari hilangnya rem yang seharusnya mengendalikan tindakan.
Meski demikian, rasanya terlalu sederhana jika seluruh kesalahan dibebankan kepada minuman keras semata. Di banyak negara, alkohol juga dikonsumsi secara luas, tetapi tidak selalu berujung pada keributan atau kekerasan. Di sana terdapat faktor lain yang bekerja: pendidikan, kedewasaan sosial, penegakan aturan, serta kemampuan individu untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Karena itu, persoalannya bukan hanya tentang apa yang diminum seseorang, melainkan juga tentang kualitas manusia yang mengonsumsinya. Alkohol mungkin menjadi pemantik, tetapi bahan bakarnya sering kali adalah rendahnya kemampuan mengendalikan emosi, lemahnya kesadaran akan konsekuensi, dan lingkungan yang tidak cukup kuat membentuk perilaku yang sehat.
Di sisi lain, upaya membatasi peredaran minuman keras yang tidak terkontrol tetap memiliki relevansi. Ketika sebuah zat terbukti sering menjadi faktor yang memperbesar risiko terjadinya kekerasan dan gangguan sosial, negara maupun masyarakat tentu memiliki alasan untuk mengaturnya secara lebih bijaksana. Pencegahan selalu lebih murah daripada menanggung akibat yang ditimbulkannya.
Saya tidak tahu apakah satu perkelahian yang saya lihat pada pagi yang masih sangat dini itu dapat mencerminkan kondisi masyarakat di daerah tersebut. Tentu tidak adil jika satu peristiwa dijadikan ukuran untuk menilai keseluruhan. Namun setidaknya, peristiwa itu seperti lampu peringatan kecil yang menyala di tepi jalan: mengingatkan bahwa perjalanan menuju generasi emas tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi.
Pada akhirnya, semua cita-cita besar selalu bertumpu pada kualitas manusia yang menjalankannya. Infrastruktur dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi membangun karakter membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Karena itulah pendidikan tetap menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar. Bukan hanya pendidikan yang menghasilkan keterampilan, melainkan pendidikan yang membentuk kemampuan berpikir, mengendalikan diri, dan hidup sebagai bagian dari masyarakat yang beradab.
Dan pagi itu, di tengah jalan yang semula saya kira hanya akan menjadi rute biasa untuk berjalan kaki, saya kembali diingatkan bahwa tantangan terbesar sebuah bangsa sering kali bukan terletak pada apa yang ingin dicapai, melainkan pada kualitas manusia yang akan membawanya ke sana.