Kasuami

-(Selasa, 16 Juni 2026)-

Kasuami. Begitulah nama panganan yang cukup akrab di daerah ini. Sengaja saya tidak menyebut nama daerahnya. Dalam banyak tulisan, saya memang jarang mencantumkan lokasi secara langsung. Saya lebih tertarik pada ceritanya daripada koordinat geografisnya.

Kasuami terbuat dari singkong. Namun, jika hanya melihat bentuk akhirnya, saya merasa proses pembuatannya tidak sesederhana singkong yang diparut lalu dikukus. Mungkin memang ada tahapan lain yang tidak saya ketahui. Bentuknya menyerupai gunung kecil yang rapi, ada bagian ujung yang lancip, seolah dicetak dengan alat tertentu. Teksturnya padat sekaligus sedikit lengket sehingga bentuk itu dapat bertahan cukup lama. Namun begitu disuil atau diambil sebagian untuk dimakan, gunung kecil itu tak lagi berbentuk gunung.

Yang menarik, masyarakat setempat memakannya sebagai pengganti nasi. Karena itu, kasuami hadir bukan sebagai kudapan, melainkan sebagai bagian utama dari hidangan. Saat ikan bakar tersaji di meja, pasangannya tak harus nasi, bisa juga kasuami. Di titik ini saya mulai memahami mengapa rasanya dibiarkan begitu sederhana. Ia membawa rasa murni singkong, nyaris tanpa tambahan apa pun.

Sebagai orang yang terbiasa mencari variasi rasa, saya sempat berpikir: bagaimana jika kasuami dicampur gula? Barangkali hasilnya akan lebih nikmat sebagai makanan ringan. Namun pada saat yang sama, ia akan kehilangan fungsi asalnya. Ia tidak lagi menjadi pengganti nasi yang netral, melainkan berubah menjadi sesuatu yang lain. Mungkin mendekati gethuk, atau mungkin menjadi jenis panganan yang sudah memiliki nama tersendiri di sini. Seperti banyak bahan pangan tradisional, perubahan kecil pada rasa dan cara pengolahan sering kali melahirkan identitas kuliner yang berbeda sama sekali.

Sejauh ini saya sudah membeli kasuami lebih dari tiga kali. Mungkin itu ukuran paling jujur untuk menilai apakah saya menyukainya atau tidak. Saya pernah membeli yang berwarna putih kekuningan, dan pernah pula yang berwarna abu-abu. Saya belum tahu apa penyebab perbedaan itu. Dugaan saya, yang berwarna abu-abu mungkin dibuat dari singkong yang telah melalui proses pengeringan atau menjadi gaplek. Tentu saja itu baru dugaan.

Karena saya cukup menyukainya, cara menikmatinya pun mulai beragam. Kadang saya memotongnya kecil-kecil lalu mencampurkannya ke dalam sayuran. Kadang saya menggorengnya. Hasilnya justru terasa lebih gurih. Mungkin karena minyak goreng meresap ke dalam pori-porinya yang berongga. Meski demikian, saya sadar bahwa kenikmatan semacam ini datang bersama konsekuensinya sendiri. Struktur kasuami yang berpori membuatnya menyerap cukup banyak minyak, sehingga bukan pilihan yang bijak jika terlalu sering dilakukan.

Begitulah. Perbendaharaan kuliner saya bertambah satu lagi. Setiap daerah memiliki caranya sendiri untuk berdamai dengan sumber pangan yang tersedia, dan kasuami adalah salah satu contohnya. Dari singkong yang sederhana, lahir makanan yang bukan sekadar pengganjal perut, melainkan bagian dari kebiasaan hidup sebuah masyarakat. Saya mungkin baru mengenalnya belakangan, tetapi semakin sering mencicipinya, semakin saya merasa bahwa makanan tidak pernah hanya soal rasa. Ia juga menyimpan jejak sejarah, lingkungan, dan cara suatu komunitas memandang kehidupan sehari-hari.

Populer

Kebugaran

Rel alternatif

Makar kuasa

Waktu, Alam, Manusia

Destinasi wisata

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Sisi gelap

Perbendaharaan Go Green

Rebahaner

Hak guru