Generasi sinis
-(Kamis, 4 Juni 2026)-
Ada kecenderungan yang menarik dari sebagian generasi boomer—atau setidaknya generasi yang tumbuh tidak jauh dari mereka. Mereka kerap membayangkan bahwa dunia hari ini semestinya bergerak menuju bentuk yang lebih ideal seperti yang pernah mereka kenal pada masa kejayaan mereka dahulu. Dari sanalah sering muncul kritik terhadap teknologi baru, termasuk terhadap penggunaan AI dalam menulis. Salah satu kalimat yang paling sering terdengar adalah: “Tulisan AI terasa hambar.”
Saya sendiri tidak benar-benar tahu dari mana kesimpulan itu berasal. Namun saya menduga, sebagian di antaranya lahir bukan dari pembacaan yang utuh, melainkan dari sikap yang sejak awal sudah sinis terhadap AI. Ketika seseorang memulai perjalanan dengan prasangka, maka hampir semua jalan akan membawanya pada kesimpulan yang ingin ia benarkan sendiri.
Di titik itu, saya merasa persoalannya bukan semata-mata tentang AI atau kualitas tulisan. Persoalannya lebih dalam: ada kegelisahan generasional yang diam-diam bekerja di baliknya. Sebagian generasi senior tampak ingin tetap memegang kendali atas cara anak muda berpikir, bekerja, bahkan berkarya. Mereka berharap generasi baru memiliki selera, kebiasaan, dan cara hidup yang serupa dengan dunia yang pernah mereka alami. Maka nasihat demi nasihat diberikan, kadang dengan nada khawatir, kadang dengan nada menggurui.
Padahal dunia telah berubah secara mendasar. Dunia hari ini bukan lagi dunia ketika para boomer tumbuh dewasa. Teknologi berkembang bukan sekadar sebagai alat bantu, melainkan telah menjadi lingkungan hidup baru bagi generasi muda. Anak-anak muda hari ini tidak “beradaptasi” dengan teknologi; mereka lahir di dalamnya. Karena itu, hubungan mereka dengan AI tentu berbeda dengan hubungan generasi sebelumnya terhadap mesin ketik, televisi, atau komputer awal.
Mungkin di situlah letak jarak pandangnya. Sebagian generasi senior melihat AI sebagai ancaman terhadap kemurnian kreativitas. Sementara banyak anak muda melihatnya sebagai alat untuk memperluas kemungkinan. Ibarat dua orang yang memandang laut dari musim yang berbeda: yang satu melihat badai, yang lain melihat jalur pelayaran baru.
Saya juga merasa, tidak sedikit kritik terhadap tulisan AI lahir karena mereka belum sungguh-sungguh memahami bagaimana teknologi itu bekerja. Mereka mungkin belum mencoba mengeksplorasi bagaimana sebuah prompt dapat membentuk nada, emosi, ritme, bahkan kepribadian sebuah tulisan. Mereka belum melihat bahwa AI hanyalah alat—dan seperti alat apa pun, kualitas hasil akhirnya tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.
Sebab tulisan yang hambar bukan monopoli AI. Banyak tulisan manusia juga hambar. Dan sebaliknya, bukan mustahil sebuah tulisan yang dibantu AI justru terasa hidup karena diolah dengan kesadaran, pengalaman, dan kejujuran personal dari penulisnya.
Karena itu saya sering merasa, sebagian penolakan terhadap AI sesungguhnya bukan tentang kualitas tulisan, melainkan tentang ketakutan kehilangan otoritas. Ada kekhawatiran bahwa cara lama tidak lagi menjadi pusat rujukan. Bahwa generasi muda mulai menemukan bahasa, alat, dan dunianya sendiri tanpa harus meminta legitimasi dari generasi sebelumnya.
Padahal semestinya para generasi senior tidak perlu terlalu sibuk mengatur bagaimana anak muda memanfaatkan teknologi. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap generasi akan menemukan cara belajarnya sendiri pula. Anak-anak muda hari ini mungkin akan melakukan kesalahan. Mereka mungkin akan terlalu bergantung pada teknologi. Tetapi bukankah setiap generasi juga pernah jatuh dengan cara yang berbeda?
Yang dibutuhkan barangkali bukan rasa takut yang diwariskan, melainkan ruang untuk bertumbuh. Sebab hidup selalu memiliki caranya sendiri untuk mendidik manusia—termasuk melalui kegagalan.
Jika para boomer terus menyebarkan kecemasan tentang teknologi kepada generasi yang lahir di tengah teknologi itu sendiri, maka ketakutan tersebut perlahan hanya akan menjadi bumerang. Dunia akan tetap bergerak maju, sementara mereka akan semakin jauh tertinggal oleh zaman yang sebenarnya sedang berusaha mereka tahan.