Wisuda sekolah

-(Kamis, 25 Juni 2026)-

Dari pagi sekitar pukul setengah delapan hingga menjelang pukul sebelas, saya duduk tenang menikmati acara yang berlangsung di hadapan saya.

Hari itu saya benar-benar meluangkan waktu untuk menemaninya memimpin acara akhirussanah. Ini adalah pengalaman pertamanya sejak dilantik sebagai kepala sekolah. Kebetulan yang jarang terjadi, saya bisa hadir secara penuh dan mendampinginya duduk di depan para hadirin: wali murid, siswa kelas VI yang lulus, anggota komite sekolah, serta para guru.

Sepanjang acara, saya berusaha seminimal mungkin menyentuh telepon genggam. Seluruh perhatian saya curahkan pada setiap rangkaian kegiatan. Saya menyaksikan prosesi kirab para murid memasuki lokasi acara, lalu mengikuti satu demi satu proses wisuda sekitar tujuh puluh siswa yang dipanggil ke depan. Nama mereka disebutkan bersama cita-cita yang mereka impikan, sebelum menerima kalung tanda kelulusan dan ijazah.

Anak-anak itu rupanya sudah bersiap sejak pagi. Anak-anak perempuan tampil rapi dengan kebaya yang mereka kenakan, sementara anak-anak laki-laki terlihat sederhana namun bersahaja dengan kemeja putih lengan panjang, celana hitam, dan peci hitam di kepala. Di tengah kesederhanaan itu, ada kebanggaan yang sulit disembunyikan, baik dari wajah anak-anak maupun orang tua yang menyaksikan.

Hal yang paling menarik perhatian saya justru bukan prosesi wisudanya, melainkan cita-cita yang disebutkan ketika nama mereka dipanggil. Dari puluhan anak itu, saya menemukan beberapa impian yang ternyata tetap bertahan lintas generasi. Saya sudah bisa menebaknya bahkan sebelum nama-nama itu disebut: dokter.

Ada cukup banyak anak yang bercita-cita menjadi dokter. Selain itu, muncul pula beragam pilihan lain seperti pengusaha sukses, tentara, polisi, hingga atlet olahraga, mulai dari pemain sepak bola sampai bola voli. Mendengar satu per satu cita-cita itu disebutkan, saya seperti sedang melihat sekumpulan benih yang baru ditanam. Kita belum tahu pohon seperti apa yang akan tumbuh kelak, tetapi hari itu setiap anak sedang menandai arah yang ingin mereka tuju.

Barangkali itulah makna paling penting dari acara semacam ini. Bukan semata-mata seremoni kelulusan, melainkan upaya menciptakan kenangan yang akan tinggal lama dalam ingatan mereka. Mungkin beberapa tahun ke depan mereka akan lupa siapa yang duduk di panggung atau siapa yang memberikan sambutan. Namun bisa jadi mereka masih mengingat hari ketika nama dan cita-citanya diumumkan di depan banyak orang. Kenangan semacam itu kadang menjadi lentera kecil yang menjaga seseorang tetap berjalan di jalur yang pernah ia pilih.

Acara akhirussanah tersebut digelar dengan sangat sederhana. Diselenggarakan di halaman sekolah, bukan di hotel. Tidak ada toga, tidak ada kemewahan yang berlebihan. Namun justru dalam kesederhanaan itu saya melihat pesan yang lebih penting. Sekolah sedang menunjukkan eksistensinya kepada masyarakat sekaligus mengingatkan para orang tua bahwa pendidikan anak adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi.

Pada saat yang sama, acara itu juga mengirimkan pesan kepada para siswa: bahwa perjalanan mereka belum selesai. Kelulusan sekolah dasar hanyalah satu anak tangga kecil dari tangga yang jauh lebih panjang. Mereka masih harus terus belajar hingga menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan, jika memungkinkan, meraih cita-cita yang hari itu mereka sebutkan dengan penuh keyakinan. Bagaimanapun, gagasan tentang generasi emas tidak akan lahir dari slogan, melainkan dari pendidikan yang dijalani secara sungguh-sungguh.

Namun perhatian saya hari itu tidak hanya tertuju pada jalannya acara. Di sela-sela prosesi, saya mengamati berbagai sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, termasuk perlengkapan yang digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut. Kesan yang saya tangkap cukup jelas: banyak hal masih serba terbatas dan sederhana.

Dari situ pikiran saya melompat pada pertanyaan yang lebih besar. Apakah unit pembina sekolah telah memiliki standar sarana dan prasarana yang jelas untuk setiap sekolah? Jika memang belum, mungkin sudah saatnya hal itu mulai dipikirkan secara lebih serius. Sekolah-sekolah, baik di tingkat dasar, menengah, maupun atas, semestinya memiliki standar minimum yang terukur mengenai fasilitas apa saja yang wajib tersedia agar proses pendidikan dapat berjalan dengan layak.

Sebab kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan guru, tetapi juga oleh lingkungan yang menopangnya. Cita-cita besar anak-anak sering kali tumbuh di ruang-ruang yang sederhana, tetapi bukan berarti mereka harus terus bertumbuh dalam keterbatasan yang sama. Negara perlu memastikan bahwa setiap sekolah memiliki fondasi yang memadai agar mimpi-mimpi itu mendapatkan tempat untuk berkembang.

Dengan alokasi anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen dari APBN, saya percaya pemerintah memiliki kapasitas untuk mulai mewujudkan hal tersebut. Karena pada akhirnya, ketika kita berbicara tentang generasi emas, yang sedang kita bicarakan sesungguhnya adalah anak-anak yang pagi itu berdiri satu per satu di atas panggung, menyebutkan cita-cita mereka dengan mata berbinar. Dan setiap cita-cita itu layak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh.

Populer

Puas pemerintah

Penempatan 200T

Ujian

Teknokratis

Rebahaner

Kota atau pedalaman?

KUR malam minggu

Jejak suro

Bubur siring

Sehat enak