Sunyi berdua
-(Senin, 29 Desember 2025)-
Aktivitas kecil, tetapi membawa kebahagiaan. Setidaknya, itu yang saya rasakan ketika kami melakukan sesuatu bersama: mencuci pakaian.
Kata kami sendiri sudah cukup menjadi bukti bahwa saya tidak sendirian. Ada seseorang di dekat saya—yang kehadirannya membuat hati lebih tenang. Dan anehnya, justru dari hal sesederhana memeras baju basah dan menggantungnya di bawah atap, kebahagiaan itu muncul tanpa diminta.
Barangkali, bukan aktivitasnya yang utama, melainkan kebersamaan pada satu fokus yang sama.
Kadang saya melihat pasangan makan di kafe. Mereka duduk berhadap-hadapan, tetapi masing-masing menunduk pada layar ponsel. Tidak ada larangan melakukan itu. Benar juga. Di meja makan tidak ada tulisan dilarang membuka HP, sebagaimana tulisan dilarang membawa makanan dari luar.
Kalau HP boleh dibawa, maka bermain sendiri-sendiri pun seolah otomatis dianggap wajar. Logika yang sah, meski terasa agak sedih ketika saya mengamatinya.
Mereka terlihat bersama, tetapi pikirannya tidak berada di tempat yang sama.
Raganya duduk berdekatan, tetapi perhatiannya berkelana ke semesta yang berbeda-beda. Saya tak tahu pasti apa yang mereka tonton, tetapi saya tahu satu hal yang pasti: kebersamaan tanpa perhatian yang saling bertaut terasa seperti foto—bukan cerita.
Di sinilah barangkali letak perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa.
Anak-anak menunggu aturan untuk patuh. Orang dewasa, idealnya, tidak lagi digerakkan oleh larangan, melainkan kesadaran. Ia disebut dewasa ketika mampu menempatkan dirinya sesuai situasi—bahkan ketika tak ada perintah.
Memilih bercakap langsung alih-alih menatap layar saat sedang berdua, kini menjadi pilihan yang berat.
Bukan karena sulit bicara, tetapi karena ponsel selalu memberi ilusi bahwa ia lebih menarik daripada manusia di depannya.
Maka ketika ada pasangan yang tetap saling bicara, menatap, dan hadir utuh dalam percakapan, saya selalu menduga-duga: barangkali itu bukan sekadar kebiasaan baik. Itu mungkin bentuk kepedulian paling sunyi tetapi paling nyata—cara mereka berkata pada cinta mereka sendiri: saya masih di sini, jangan pergi.
Sebab hidup bersama tanpa cinta mungkin masih bisa berjalan,
tetapi ia akan berjalan seperti mesin cuci otomatis—berputar, berbunyi, bersih, selesai—tanpa ada yang benar-benar dirayakan.
Dan ketika semuanya terasa hambar, bukan tidak mungkin retak itu sudah dimulai, pelan-pelan, seperti gerimis yang tidak terasa basahnya sampai kita sadar baju kita sudah berat.