Kecamuk pikiran
-(Selasa, 23 Desember 2025)-
Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran saya. Apakah itu memang karena saya memicu diri untuk berpikir, atau memang mekanisme alami, itu yang belum saya tahu pasti. Padahal, banyak orang menginginkan sebuah kepastian akan sesuatu yang berhubungan dengan masa depan.
Inilah pula yang mendorong manusia untuk mencari cara bagaimana memprediksi masa depan. Apa yang akan terjadi di tahun depan? Berapa pertumbuhan ekonominya? Apakah harga saham, harga emas, atau nilai tukar uang masih akan bergejolak?
Belakangan, sudah mulai banyak pihak yang membuat prediksi atau outlook tentang perekonomian tahun depan. Setiap akhir tahun digelar seminar atau diskusi yang membahas hal itu. Artinya, outlook telah menjadi ritual akhir tahun, sekaligus menunjukkan betapa manusia membutuhkan sebuah kepastian.
Namun, apakah ada yang benar-benar pasti di dunia ini? Tentu ada. Tetapi sebagian di antaranya tak ada yang tahu. Apalagi soal nasib manusia, yang pada realitanya tak pernah sama, meski beberapa orang berasal dari keluarga yang sama atau bersekolah di tempat yang sama.
Ada banyak faktor yang memengaruhi nasib seseorang. Salah satu yang utama adalah pendidikan. Bagaimanapun, pendidikan sering dianggap sebagai kunci untuk membuat nasib—alias kehidupan—seseorang menjadi lebih baik. Meski faktanya, tidak semua orang yang berpendidikan bernasib baik. Sekali lagi, itu menegaskan bahwa tidak ada yang sepenuhnya pasti.
Barangkali kesimpulan bahwa pendidikan adalah kunci peningkatan taraf kehidupan berangkat dari penelitian dan observasi, yang hasilnya secara umum menunjukkan kecenderungan demikian. Masalahnya kemudian adalah: bagaimana pendidikan itu dijalankan?
Ada pendidikan yang dijalankan dengan tujuan meningkatkan kemampuan kognitif, berpikir kritis, berlogika secara benar dan rasional. Namun ada pula yang lebih banyak menekankan pada tingkat hafalan. Dua kubu ini sama-sama menganggap apa yang mereka lakukan adalah bagian dari pendidikan. Tetapi hasilnya tidaklah sama.
Apakah memang semuanya harus sama? Bukankah manusia diciptakan memang berbeda satu sama lain? Bahkan orang kembar pun tetap memiliki perbedaan. Dari perbedaan itulah timbul keanekaragaman. Keanekaragaman itu justru menambah kekayaan dan membuat hidup menjadi lebih unik. Setidaknya, tidak membuat kita jenuh karena semuanya serba sama. Bayangkan saja jika setiap hari yang kita jalani selalu sama dalam apa yang kita kerjakan.
Jika itu terjadi, ujungnya adalah kebosanan—alias kejenuhan. Lalu setiap orang bergerak mencari solusi agar mereka tidak lagi bosan.
Maka hadirlah mereka di sebuah pertunjukan. Berkumpul bersama untuk menghilangkan kejenuhan. Bersenang-senang, menikmati suasana yang ramai dan hingar bingar. Barangkali di tempat itu mereka mampu mengatasi sejenak pikiran yang terus berkecamuk. Meski setelahnya, pikiran itu akan kembali berkecamuk.
Dan di situlah masalah utamanya. Sesuatu yang terus membuat manusia seolah bergelut dengan dirinya sendiri. Membuat manusia seakan terbelah, bahkan retak. Mereka tak pernah benar-benar utuh, karena batin dan pikirannya selalu berkecamuk—oleh keinginan dan harapan yang tidak satu, melainkan banyak.