Hafalan Qur'an
-(Jumat, 5 Desember 2025)-
Tepat di Jumat pagi ini, rutinitas membaca Al-Qur’an membawa saya pada Surah Ar-Rahman. Seusai salat Subuh berjamaah di langgar, saya membiasakan diri membaca Al-Qur’an sebanyak dua halaman setiap hari. Namun belakangan, karena sudah memasuki juz-juz akhir yang berisi surah-surah lebih pendek, saya membaca satu surah penuh.
Tentu semua orang Islam mengenal Surah Ar-Rahman—surah yang di dalamnya berulang ayat, fa biayyi alā’i rabbikumā tukażżibān: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Pertanyaan itu, meski retoris, mampu mengetuk batin siapa pun. Ia menghadirkan renungan yang sulit dihindari, seolah memaksa kita mengakui bahwa tak satu pun nikmat yang pantas kita abaikan, apalagi kita dustakan.
Dulu sebenarnya saya hafal surah ini. Sayangnya, hafalan itu tidak saya latih. Meski demikian, ketika membacanya kini, lisan saya tetap lancar; beberapa ayat bahkan mengalir tanpa perlu saya lihat teksnya. Dahulu saya juga menghafal Juz Amma—Juz 30—beserta beberapa surah dari Juz 29. Namun saya perlu beristigfar, sebab hafalan yang tidak dijaga adalah kemampuan yang perlahan hilang, atau setidaknya menurun tajam kualitasnya. Setiap kemampuan, bila tidak dilatih, pada akhirnya akan memudar.
Dari kesadaran itulah saya merasa bahwa pada waktunya nanti—atau mungkin seharusnya dimulai sekarang—saya memang perlu kembali melatih hafalan Al-Qur’an saya.
Setidaknya niat itu telah hidup kembali, dan saya berharap Tuhan menolong saya untuk mewujudkannya.