Kekejian batin

-(Sabtu, 28 Februari 2026)-

Meski secara fisik kita tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain, namun dalam batin, barangkali kita pernah melakukan satu kekejian yang lebih halus. Yaitu ketika kita merasa senang saat melihat orang lain mendapatkan kemalangan—gagal tes, kehilangan kesempatan, atau tertimpa hal buruk lainnya.

Ironisnya, perasaan itu kadang datang tanpa diundang. Bahkan ada saat di mana kita merasa lega, seolah-olah beban di dada sedikit terangkat, ketika mengetahui orang lain mengalami nasib yang sama dengan kita. Ada semacam rasa tervalidasi: ternyata bukan hanya saya yang gagal, bukan hanya saya yang menderita. Kita merasa tidak sendiri.

Di titik itulah persoalannya menjadi lebih dalam. Rasa senang melihat orang lain susah—dan sebaliknya, rasa susah melihat orang lain senang—bukan sekadar emosi sesaat. Ia adalah gejala dari sesuatu yang lebih mendasar: penyakit hati. Dan penyakit ini tidak mengenal batas kelas sosial, tingkat pendidikan, atau lingkungan pergaulan. Ia bisa tumbuh di mana saja, pada siapa saja.

Barangkali inilah watak dasar manusia yang egois. Sebuah naluri untuk membandingkan, untuk merasa lebih aman ketika posisi orang lain tidak lebih tinggi dari kita. Dalam bahasa agama, ini disebut penyakit hati. Sesuatu yang harus dikelola, dikendalikan, dan disucikan agar tidak merusak kehidupan sosial maupun kesehatan psikologis kita sendiri.

Memang, perasaan ini sering tersembunyi. Sebagian orang pandai menutupinya, sebagian lain tidak cukup lihai menyamarkan gestur dan ekspresinya. Namun tersembunyi atau tidak, ia tetaplah sesuatu yang keji. Kita tidak disentuh secara langsung oleh peristiwa itu, tetapi kita merasa tersaingi. Kita tidak dirugikan, tetapi kita merasa tersakiti hanya karena tidak ikut merasakan kesenangan yang sama. Inilah yang kita kenal sebagai iri dengki.

Lebih halus lagi adalah bentuk yang saya sebut di awal: ketika kita merasa senang melihat orang lain tertimpa kemalangan. Seolah ada “psikopat kecil” yang tumbuh diam-diam dalam diri. Ia mungkin tampak remeh, tetapi jika dibiarkan, ia bisa menjadi kebiasaan batin—cara berpikir yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai sumber hiburan atau penghiburan.

Jika tidak hati-hati, dan kita membiarkannya tumbuh tanpa koreksi, bukan tidak mungkin ia akan berbalik membahayakan diri sendiri. Sebab hati yang terbiasa menikmati luka orang lain, perlahan akan kehilangan empati. Dan ketika empati hilang, hubungan sosial pun menjadi rapuh.

Karena itu, upaya tazkiyatun nufus—penyucian jiwa—menjadi penting. Ia bukan sekadar konsep normatif dalam agama, melainkan kebutuhan nyata untuk menjaga kewarasan dan kejernihan batin. Membersihkan hati dari iri bukan hanya soal moralitas, tetapi juga soal kesehatan jiwa.

Ramadhan, dalam konteks ini, seharusnya menjadi momentum yang tepat. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan perasaan-perasaan gelap yang bersemayam dalam dada. Ia adalah waktu untuk berintrospeksi, bermuhasabah, dan berani menatap isi hati sendiri—seandainya semua itu ditayangkan di layar besar, mungkin kita pun akan malu melihatnya.

Pada akhirnya, perjuangan terbesar bukanlah melawan orang lain, melainkan menaklukkan penyakit hati yang tersembunyi dalam diri. Karena kejahatan yang paling berbahaya sering kali bukan yang terlihat oleh mata, melainkan yang dibiarkan tumbuh diam-diam di dalam hati.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"