Jalur kenangan

-(Minggu, 15 Februari 2026)-

Setelah sekian lama tak menaiki kereta yang melintasi jalur selatan, hari itu saya kembali menempuh lintasan itu. Jalur kenangan, barangkali. Dahulu, selama beberapa tahun, saya melewatinya hampir setiap pekan. Ada jejak kebiasaan yang terasa samar, seperti ingatan lama yang tiba-tiba disentuh ulang.

Masih musim hujan. Maka pemandangan di kiri dan kanan rel didominasi warna hijau yang berlimpah. Sawah terbentang, pemukiman desa menyelip di antaranya, rerumputan dan pepohonan tampak rimbun—seolah alam sedang berpidato lirih: oh nikmat air hujan mana lagi yang hendak kami dustakan. Hijau yang subur, segar, dan nyaris berlebihan.

Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar tujuh jam. Sejak awal saya sudah berprasangka: kegabutan akan segera menyerang. Duduk sendiri di kursi dekat jendela, dalam suasana kereta yang cenderung seragam, selama berjam-jam. Kita saja kerap tak sabar menunggu lampu merah yang hanya beberapa menit, apalagi duduk diam selama tujuh jam penuh. Waktu, ketika dipaksa melambat, sering terasa seperti beban.

Kereta mungkin monoton, tetapi saya mencoba menghibur diri dengan pemandangan di luar jendela. Sayangnya, pemandangan pun punya batas daya tarik. Awalnya memikat, lalu perlahan berulang, dan akhirnya terasa sama. Persis seperti ketika kita tiba di sebuah tempat baru: dua atau tiga hari pertama terasa istimewa, mungkin hingga sepekan. Setelah itu, kejenuhan kembali mengambil alih. Keindahan kehilangan daya kejutnya.

Di titik itu saya mulai berpikir: barangkali inilah kodrat gelap manusia—selalu berhadapan dengan rasa jenuh. Mungkin pula sifat inilah yang dimanfaatkan media sosial untuk menemukan penontonnya. Ketika seseorang terus-menerus menggulir layar gawainya, bisa jadi yang sedang ia lawan bukan rasa ingin tahu, melainkan kebosanan yang tak tahu harus ke mana.

Lalu, apa yang seharusnya saya lakukan selama tujuh jam ini? Apakah cukup dengan memandangi sawah yang menghijau, deretan rumah, atau langit dengan awannya yang mengambang pelan? Ataukah saya sekadar bengong, melamun tanpa arah? Memikirkan sesuatu, mencari solusi atas persoalan yang entah apa? Atau menulis?

Sesungguhnya saya ingin menikmati keberadaan saya dalam perjalanan ini. Merasakan secara utuh momen ketika saya duduk di kereta yang melaju kencang, tanpa harus lari ke mana-mana. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus menohok: sanggupkah saya bertahan beberapa menit saja bersama diri sendiri?

Rasanya sulit. Selalu ada dorongan untuk “membunuh waktu” dengan aktivitas lain. Salah satunya mengunyah makanan—yang tentu sudah saya siapkan sejak sebelum berangkat. Mengunyah adalah cara jitu mengalihkan kejenuhan. Setidaknya, begitulah pengalaman saya. Mulut bekerja, pikiran pun sedikit teralihkan.

Di tengah rasa jenuh itu, saya mencoba melakukan sesuatu yang berbeda: menyadari kejenuhan itu sendiri. Merasakannya tanpa tergesa-gesa mengusir. Saya mendapati bahwa jenuh sering kali melahirkan keinginan untuk membayangkan kondisi lain—entah masa lampau yang terasa lebih menyenangkan, atau masa depan yang diharapkan lebih baik. Pada saat itu, tanpa sadar, saya terjerumus ke dalam lamunan. Tak lama kemudian saya tersadar, lalu kembali—lagi-lagi—ke momen kini.

Begitulah. Dalam perjalanan yang bahkan belum separuh jalan, saya sudah diserang berbagai lamunan dan kebosanan. Dan justru kebosanan itulah, tampaknya, salah satu ketakutan terbesar manusia. Dengan segala cara, kita berupaya menyingkirkannya: bekerja, makan, menonton, menggulir layar, berbicara, atau sekadar mengisi ruang kosong agar tak terdengar sunyi.

Pertanyaan dasarnya kemudian muncul: jika rasa bosan itu benar-benar hilang, apakah kita masih sepenuhnya manusia? Bukankah kebosanan justru melekat sebagai bagian dari pengalaman manusia itu sendiri—sebagai ruang jeda yang memaksa kita berhadapan dengan diri kita, tanpa distraksi?

Mungkin, seperti jalur selatan yang saya lewati hari ini, kejenuhan bukanlah sesuatu yang harus selalu dihindari. Ia hanya lintasan yang memang harus dilewati, pelan-pelan, sambil belajar duduk tenang di dalamnya.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"