Ego & narasi
-(Jumat, 20 Februari 2026)-
Barangkali memang demikian watak manusia. Di balik dalil-dalil yang terdengar luhur, sering tersembunyi motif yang tak sepenuhnya murni—setidaknya demi kepentingan kelompoknya sendiri. Kita mengaku berbicara atas nama kebenaran, tetapi diam-diam menjaga wilayah kuasa masing-masing.
Jika dua dalil sama-sama diyakini benar, bukankah mestinya kita bisa duduk bersama dan memilih salah satunya? Namun di titik itulah kenyataan menyingkap wajahnya: manusia tidak mudah menerima kekalahan, bahkan dalam urusan kebenaran. Kita lebih rela menciptakan “versi” daripada mengakui bahwa mungkin kita keliru. Maka lahirlah banyak kebenaran, masing-masing dengan benderanya sendiri.
Dari sinilah relasi kuasa menemukan akarnya. Keinginan untuk tidak dikalahkan berkembang menjadi kebutuhan untuk menguasai. Kekuasaan lalu dipersepsikan sebagai alat untuk mewujudkan kesejahteraan. Tetapi pertanyaannya tak pernah sederhana: benarkah kekuasaan itu diperoleh demi banyak orang, atau sesungguhnya demi kejayaan diri, demi nama yang ingin diabadikan, demi legacy yang ingin dipahat dalam sejarah?
Politik kemudian menjadi panggung paling terang bagi drama ini. Di sana, manuver bukan sekadar strategi, melainkan seni bertahan dan menang. Ego pribadi dapat disulap menjadi kepentingan rakyat dengan bantuan narasi yang terstruktur rapi. Kata-kata dipilih, emosi disentuh, ketakutan dibangkitkan. Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa manusia mudah ditundukkan oleh narasi yang terus-menerus diulang—terlebih jika disertai ancaman, nyata maupun imajiner. Dalam kondisi seperti itu, jumlah bukan lagi soal. Ketika psikologi massa telah digenggam, satu suara pun cukup untuk membuat ribuan bertekuk lutut.
Di sinilah paradoks manusia menjadi jelas. Kita rapuh oleh cerita, tetapi sekaligus memiliki kekuatan yang dapat mengubah—bahkan merusak—dunia. Atas nama ego, pengorbanan dianggap wajar. Ego itu sendiri jarang tampil telanjang; ia berlindung di balik dalil, idealisme, bahkan konsep-konsep abstrak yang tampak suci.
Semakin jauh saya merenung, semakin saya memahami betapa dahsyatnya bahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah arsitek pikiran. Ketika pikiran telah dibentuk, mobilisasi menjadi perkara teknis. Setiap orang digerakkan oleh apa yang diyakininya benar. Dan keyakinan itu sering kali lahir dari paparan narasi yang terus berseliweran—setiap hari, setiap jam, setiap menit—melalui media yang tak pernah tidur.
Karena itu, yang paling mendesak bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan menjaga kejernihan pikiran. Pikiran yang sadar akan mampu mengenali bahwa banyak dari apa yang kita konsumsi sejatinya adalah proyek perebutan makna—perang sunyi antar-narasi yang sama-sama ingin dominan. Tanpa kesadaran itu, kita hanya menjadi bidak yang bergerak sesuai desain orang lain.
Pada akhirnya, semua ini kembali pada satu entitas yang tak kasatmata namun begitu menentukan: ego manusia. Ia bisa menjadi energi pencipta peradaban, tetapi juga bara yang membakar bumi. Tergantung apakah ia dikendalikan oleh kesadaran, atau justru dibiarkan mengendalikan kita.