Menjaring ikan

-(Minggu, 17 Mei 2026)-

Jalan pagi kerap membuka pemandangan yang tak terduga. Beberapa waktu lalu, saya bercerita tentang lapak BBM di depan SPBU. Kali ini, yang saya temui berbeda: seorang lelaki yang menebar jaring ikan di pinggir teluk. Bukan sekali, melainkan dua kali saya melihatnya melakukan hal yang sama, di waktu yang hampir serupa. Pemandangan itu perlahan berubah dari sekadar kebetulan menjadi semacam pola—barangkali memang itulah rutinitas paginya.

Saya mengamatinya lebih lama pada pertemuan kedua. Ia berjalan menyusuri tepian air, membawa jala dan wadah sederhana untuk menampung hasil tangkapan. Gerakannya terukur: melempar jaring, menunggu, lalu menariknya kembali. Ada kesabaran yang nyaris tak terlihat, tapi terasa. Saya bahkan sempat merekamnya—sebuah fragmen kecil yang kemudian saya unggah menjadi status WhatsApp, seolah ingin membagikan ketenangan yang saya saksikan.

Melihatnya, saya tak bisa tidak membayangkan kehidupan batinnya. Mungkin ia seorang yang soliter. Atau mungkin aktivitas itu bukan semata pekerjaan, melainkan cara lain untuk berdiam diri di tengah dunia yang terus bergerak. Bisa jadi, menebar jala adalah bentuk meditasinya—ritual sederhana untuk menyambut pagi, sebagaimana saya berjalan kaki untuk alasan yang tak selalu bisa dijelaskan.

Ada kemungkinan lain: bahwa kebahagiaan yang ia rasakan bukan berasal dari hasil tangkapan semata, melainkan dari prosesnya. Dari sensasi air yang menyentuh tubuh, dari gerakan berulang yang memberi ritme, dari harapan kecil setiap kali jaring diangkat. Ikan-ikan yang tersangkut mungkin hanya bonus; yang utama adalah pengalaman itu sendiri—kehadiran yang utuh di saat ini.

Ketika ia menyadari saya memperhatikannya, kami saling bertukar senyum. Singkat, tapi cukup untuk mengisyaratkan semacam pengertian diam-diam. Mungkin di titik itu saya merasa: kami tidak sepenuhnya berbeda. Seorang pejalan kaki di pagi hari, dan seorang penjaring ikan di tepi laut—keduanya menjalani bentuk kesendirian yang serupa, meski dengan cara yang berbeda.

Rutinitas semacam ini sering dianggap remeh, bahkan mekanis—seperti kerja Sisifus yang berulang tanpa akhir. Namun justru di situlah mungkin tersembunyi maknanya. Jika seseorang terus mengulang sebuah aktivitas setiap hari, barangkali bukan karena terpaksa, melainkan karena di sana ada sesuatu yang memberi rasa cukup.

Atau bisa jadi penjelasannya lebih sederhana: tubuh kita memang dirancang untuk menemukan kegembiraan dalam gerak. Saat bergerak, hormon-hormon kebahagiaan mengalir, menciptakan rasa ringan yang membuat kita ingin kembali melakukannya. Jika demikian, kebahagiaan ternyata tidak selalu menuntut perjalanan jauh atau pencapaian besar. Ia bisa lahir dari langkah-langkah kecil yang diulang dengan kesadaran.

Dan mungkin, pagi itu, di antara langkah saya dan lemparan jalanya, kami sama-sama sedang menemukan cara masing-masing untuk merasa hidup.

Populer

Hak guru

Puas pemerintah

Sisi gelap

Kemajuan timpang

Lagu imitasi

Sawah hijau

Senja Harom

Optimisme

Pergaulan global

Pulang tanah air