Karya kreatif
-(Kamis, 7 Mei 2026)-
Dalam sebuah acara penutupan hari jadi sebuah daerah, saya menemukan sesuatu yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Namun tidak bagi saya. Ada detail-detail kecil yang sering kali justru paling menarik untuk diamati—sebab di situlah zaman diam-diam memperlihatkan wajahnya.
Malam itu, perhatian saya tertuju pada layar besar di panggung utama. Di belakang foto dua pimpinan daerah terpampang animasi kota futuristik: gedung-gedung menjulang dengan cahaya biru metalik, jalan-jalan yang tampak bersih dan modern, langit yang nyaris terlalu sempurna untuk disebut nyata. Saya membayangkan visual itu sebagai semacam proyeksi harapan—gambaran tentang masa depan yang ingin dicapai daerah tersebut.
Tetapi yang kemudian muncul di kepala saya bukanlah soal visi pembangunan. Saya justru bertanya: siapa yang membuat ilustrasi itu? Atau lebih tepatnya, bagaimana ia dibuat?
Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menebaknya. Visual itu hampir pasti dibuat dengan bantuan AI. Saya memang tidak tahu aplikasi apa yang digunakan, tetapi ada semacam “sidik jari” yang kini mulai mudah dikenali: detail yang terlalu rapi, komposisi yang nyaris tanpa cela, dan nuansa futuristik yang terasa seperti mimpi hasil mesin.
Saat para tamu, termasuk saya, masih menunggu acara dimulai, panitia memutar lagu-lagu dengan dentuman keras yang memenuhi ruangan. Sebagian lagu terasa asing di telinga saya. Liriknya ternyata berbicara tentang hari jadi daerah itu—tentang semangat membangun, kolaborasi, optimisme, dan masa depan yang gemilang.
Sekali lagi saya bertanya dalam hati: siapa yang membuat lagu-lagu ini?
Dan sekali lagi jawabannya tampak begitu jelas. Lagu-lagu itu kemungkinan besar juga dibuat dengan AI. Tentu tetap ada campur tangan manusia di sana—setidaknya seseorang yang memahami selera musik, atmosfer acara, dan emosi yang ingin dibangun. Tetapi proses yang dulu mungkin membutuhkan studio, tim kreatif, penulis lirik, komposer, dan waktu panjang, kini bisa diringkas menjadi beberapa perintah di layar.
Di titik itulah saya mulai berpikir lebih jauh.
Barangkali pihak EO atau panitia acara sudah sangat akrab dengan teknologi ini. Mereka mungkin tidak lagi membutuhkan proses kreatif yang panjang untuk menghasilkan visual panggung, musik pembuka, atau materi promosi. AI telah menjadi semacam “mesin serbaguna” yang mampu menjawab kebutuhan kreatif dengan cepat, murah, dan nyaris tanpa lelah.
Lalu saya bertanya-tanya: apakah ini perlahan menjadi senja bagi para kreator?
Bayangkan jika hampir setiap acara mulai menggunakan AI untuk membuat lagu, desain visual, video promosi, bahkan naskah pidato. Apa yang dulu lahir dari perenungan panjang manusia kini dapat diproduksi dalam hitungan menit oleh mesin yang tidak pernah merasa lelah, tidak pernah kehilangan ide, dan tidak pernah meminta honor.
Tentu manusia masih dibutuhkan. Setidaknya untuk memberi arah, memilih rasa, dan menentukan nada. Namun perannya mungkin mulai bergeser: bukan lagi pencipta sepenuhnya, melainkan kurator bagi kecerdasan buatan.
Dan mungkin di situlah kegelisahan zaman ini bermula.
Kita sedang menyaksikan sebuah perubahan besar yang bergerak nyaris tanpa suara. AI tidak datang seperti badai yang merobohkan pintu. Ia masuk perlahan, lewat layar panggung, lagu perayaan, desain poster, dan hal-hal kecil yang tampak sepele. Sampai suatu hari kita sadar: banyak hal yang dulu terasa sangat manusiawi ternyata kini bisa ditiru oleh mesin.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI mampu membuat karya kreatif. Sebab jawabannya sudah ada di depan mata. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: ketika mesin bisa menciptakan hampir segalanya, apa yang masih membuat karya manusia terasa berbeda?