Gerimis pergi
-(Selasa, 11 November 2025)-
Gerimis sore masih saja turun saat penumpang diminta untuk boarding. Karena itulah, tak ada penumpang yang diminta naik lewat pintu belakang. Maka, diatur agar penumpang dengan nomor kursi 20 ke atas diminta naik lebih dahulu.
Saya pun sabar menunggu giliran untuk naik pesawat, sebab nomor kursi saya tergolong kecil. Artinya, tak selalu nomor urut kecil diberikan kesempatan lebih dahulu. Padahal mungkin, sebagian dari kita memilih nomor kecil dengan harapan akan dipanggil lebih cepat.
Seperti biasa, selalu ada perasaan bahwa sesuatu tertinggal setiap kali akan pergi. Entahlah apa benda atau sesuatu itu, sebab saya belum juga menyadari apa yang sebenarnya tertinggal. Bisa jadi bukan benda, melainkan suatu perasaan. Perasaan yang entah mengapa selalu muncul setiap kali harus meninggalkan sesuatu. Mungkin memang sudah kodratnya begitu: bahwa setiap perpisahan membawa sejumput kehilangan yang tak dapat dijelaskan.
Mungkin pula suasana sore dengan gerimis itu turut menjadi bagian dari semesta yang ikut merasakan apa yang tengah dirasa oleh hati. Gerimis itu seolah menjelma menjadi tangisan alam—rintik-rintiknya menggambarkan sendu yang tak terucapkan.
Namun demikian, bukan berarti gerimis mampu menghalangi burung besi itu untuk tetap terbang tinggi. Justru hari itu ia datang lebih cepat dari sejumlah penerbangan yang pernah saya temui. Waktu boarding kali ini terasa lebih on time, sehingga saya tak punya kesempatan leluasa untuk sekadar melepas hati yang senantiasa membuat saya ingin pulang.
Kenyataannya, burung besi itu kemudian terbang tinggi menembus langit sore yang perlahan beranjak malam. Ia melaju dengan kokohnya, membawa perasaan sendu atas apa yang telah terjadi dalam beberapa hari ini.
Apakah yang akan terjadi kemudian?
Ujung cerita sebenarnya sudah sangat jelas: sebuah kerinduan yang akan kembali tumbuh dan mekar. Adakalanya rindu itu terasa indah, namun di saat yang sama ia juga menyesakkan jiwa. Karenanya, boleh saja burung besi itu membawa raga, tetapi ia tak mungkin mampu membawa sebagian jiwa yang tertinggal bersama hati-hati terkasih.
Gelap akhirnya menyelimuti ketika burung besi itu mendarat keras. Langkah kaki kembali tersusun, dan cerita kehidupan mesti terus berlanjut. Ia tak boleh cengeng oleh sebuah perpisahan, sebab pada akhirnya semua akan kembali bertemu.