Kompleksitas perilaku

-(Sabtu, 29 November 2025)-

Ribut dan viral soal tumbler di media belakangan ini, yang kemudian berakhir damai, semakin menegaskan kebenaran isi buku yang saya baca itu. Semua berawal dari kehilangan benda yang dianggap berharga di sebuah moda transportasi. Lantas si pemilik tidak terima dan menceritakannya ke medsos. Ah, lanjutannya silakan cari sendiri di internet.

Sebenarnya saya agak malas menulis hal-hal viral, karena itu justru membuatnya semakin viral. Yang kadang saya melihat, berita semacam itu menjadi viral karena telah ditunggangi banyak orang untuk barangkali ingin menjadi terkenal, merasa ikut memberikan pembelaan, rasa empati, dan mungkin juga untuk kepentingan memperbanyak penonton alias menambah engagement. Fenomena semacam ini mencerminkan bagaimana opini publik dapat bergeser menjadi komoditas sosial.

Pertanyaan kritisnya adalah: mengapa ada manusia yang melakukan hal begitu? Baik yang dilakukan oleh pemilik tumbler, maupun yang dilakukan oleh para netizen. Dari mana perilaku itu muncul? Apakah itu juga diwarisi dari nenek moyang manusia?

Nampaknya itu bermula dari kepemilikan benda. Ketika benda itu hilang, kita merasa dirugikan, tidak terima, dan ego manusia pun mencuat dan bermain. Pada bagian inilah ego menjadi sumber masalah—yang bahkan kerap karena ego, manusia tak peduli dengan nasib orang lain. Reaksi emosional ini bukan sekadar persoalan tumbler, tetapi refleksi mendalam tentang bagaimana kita memaknai hak milik.

Penjelasan buku itu memberikan jawaban. Kira-kira itu adalah dampak dari revolusi pertanian yang terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan manusia. Dengan tidak lagi melakukan perburuan, manusia kemudian hidup menetap di satu wilayah, menggarap lahan untuk ditanami, dan disitulah hak kepemilikan atas tanah timbul untuk pertama kalinya. Dari titik inilah kecemasan kehilangan dan dorongan mempertahankan kepunyaan menjadi bagian permanen dari psikologi manusia.

Lalu, bagaimana dengan reaksi pembelaan yang dilakukan netizen hingga menjadi tekanan keras? Apakah ada penjelasannya dari buku itu?

Barangkali ini bisa dijelaskan sebagai salah satu bentuk kerjasama dalam jumlah besar di antara banyak orang yang tidak saling mengenal. Kerjasama inilah yang membuat manusia kemudian menjadi eksis, berkembang, bahkan mampu mengalahkan spesies lainnya. Tentu ada narasi yang membuat kerjasama itu terjadi. Untuk kasus itu, barangkali narasi empati atas apa yang terjadi pada petugas transportasi telah membuat netizen ikut melakukan pembelaan. Mereka terhubung melalui rasa keadilan imajiner yang dibangun bersama—meski tidak mengenal langsung pihak yang terlibat.

Itu tentu sebatas analisis saya yang mencoba mengaitkan antara teksbook dengan realitas kehidupan. Mungkin tidak semua analisis saya benar, tapi setidaknya saya telah mencoba melihat dan memahami mengapa manusia bisa melakukan perilaku demikian itu. Menghubungkan teori dengan pengalaman sosial mungkin tidak selalu presisi, namun justru di situlah refleksi kritis bekerja.

Pada akhirnya, apakah itu sepenuhnya kesalahan manusia, ataukah memang sudah sifat bawaan yang bahkan diri manusia itu sendiri tak bisa mengontrolnya? Jika begitu, siapa yang mesti disalahkan? Siapa kambing hitamnya—manusia modern atau jejak evolusi yang masih tinggal dalam diri kita?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih terbuka. Dan mungkin, dengan segala kekurangannya, kasus tumbler hanyalah cermin kecil untuk melihat kompleksitas sifat manusia yang jauh lebih besar.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"