Kreativitas layu
-(Senin, 5 Januari 2026)-
Saya kembali mencoba menulis dari kegelisahan yang paling sederhana: membuat tulisan dari dua kata. Saya lakukan ini karena, terus terang, saya benar-benar kehabisan ide. Ironisnya, bahkan untuk menemukan dua kata pun saya kesulitan. Padahal, dua kata itu seharusnya menjadi pemantik, bukan beban.
Dari kebuntuan itu, saya terdorong merenung lebih jauh. Mungkinkah kenyamanan hidup membuat daya kreativitas seseorang menyusut? Pikiran itu membawa saya pada pengamatan yang kerap saya lakukan terhadap para pemusik—terutama mereka yang merangkap sebagai pencipta lagu sekaligus penyanyi. Ada pola yang terasa berulang: ketika hidup mereka masih penuh kekurangan, belum mapan, atau masih berjuang, lagu-lagu yang mereka ciptakan terdengar lebih hidup, kuat, dan banyak disukai orang. Ada energi jujur di sana—energi yang lahir dari lapar, bukan dari kenyang.
Namun, lambat laun, ketika ketenaran dan cuan mulai mengalir deras, karya-karya baru mereka terasa kehilangan daya pikatnya. Bukan buruk, tetapi terasa monoton. Beberapa bahkan terdengar tidak lagi enak di telinga. Saya tak bicara tentang satu atau dua orang. Dan saya memilih untuk tidak menyebut nama siapa pun—bukan karena tak bisa, melainkan karena tak perlu. Ini bukan soal figur, melainkan pola yang bisa diuji dan dibuktikan oleh siapa saja yang cukup lama mengikuti perjalanan musik mereka.
Ada pula sejumlah penyanyi dan pencipta lagu yang kini tak lagi produktif. Sebagian mungkin karena usia, sebagian barangkali karena hidup yang sudah terlampau nyaman. Saya melihat kemungkinan sebab yang lebih mendasar: ketika motivasi berkarya berubah menjadi motivasi meraup cuan, dan cuan itu sudah terkumpul banyak, urgensi untuk mencipta sering ikut melemah. Dengan kata lain, bisa jadi lagu-lagu bagus dulu diciptakan untuk menarik cuan. Setelah cuan dirasa cukup, daya cipta perlahan kehilangan bahan bakarnya.
Pengamatan ini, saya kira, tidak hanya berlaku pada dunia musik. Kenyamanan dan kemapanan hidup kerap mengikis daya kreatif dan inovatif di berbagai profesi. Dari sinilah ungkapan tentang dampak negatif zona nyaman terasa menemukan konteksnya. Kita semua tahu istilah itu. Kita semua pernah mendengarnya.
Lantas, apakah contoh dan argumen tersebut bisa saya tarik pada apa yang sedang terjadi pada diri saya sendiri? Apakah kondisi kehabisan ide yang saya alami ini bisa dimaknai sebagai tanda bahwa saya sudah berada dalam zona nyaman? Sekilas tampak relevan, tetapi saya ragu menyederhanakannya sejauh itu.
Saya merasa, kebuntuan ini lebih mungkin disebabkan oleh hal yang lebih konkret: beberapa hari terakhir saya tidak punya cukup waktu untuk membaca buku. Saya juga tidak serius menyerap informasi baru, atau mengamati data dan kejadian di sekitar saya. Penyebabnya? Bisa jadi karena kesibukan yang menyita ruang berpikir saya. Atau justru karena saya tengah menikmati kenyamanan lain—kenyamanan yang datang bukan dari mapan, tetapi dari rutinitas yang terasa menyenangkan, memabukkan, dan membuat saya lupa bahwa ide segar selalu menuntut disiplin: membaca, mengamati, menyerap informasi, dan terus meng-upgrade diri.
Sampai di titik ini, saya tetap belum menemukan dua kata yang sedari awal saya cari. Tetapi saya menyadari sesuatu yang lebih penting: uraian panjang yang saya ketik dari rasa buntu ini, tanpa saya rencanakan, sudah terlanjur menjadi satu tulisan utuh. Maka, saya urungkan niat mencari dua kata itu, karena jika saya paksakan, tulisan ini akan semakin panjang dan kehilangan fokusnya—melebar ke terlalu banyak topik dan menjauh dari kegelisahan awal yang justru menjadi inti ceritanya.
Jadi, saya putuskan berhenti di sini. Bukan karena saya sudah selesai berpikir, tetapi karena saya mulai melihat kembali apa yang sempat saya kira hilang: suara orang yang sedang merenung, bertanya, dan mencoba jujur pada dirinya sendiri.
Tulisan ini saya akhiri pada titik ini.