Wajah pikiran

 -(Kamis, 15 Januari 2026)-

Pada masa Covid dulu, hampir setiap orang mengenakan masker. Ada pengalaman batin yang menarik ketika kita berhadapan dengan wajah-wajah bermasker itu. Tanpa sadar, pikiran kita seperti “melengkapi” wajah yang tertutup. Kita merasa seolah sudah melihat wajah orang tersebut secara utuh. Lalu muncullah penilaian spontan dalam batin: orang ini cantik, yang itu ganteng. Namun, ketika masker akhirnya dibuka, tidak jarang muncul reaksi lain: oh…—sebuah kekecewaan kecil yang sulit dijelaskan.

Pertanyaannya, mengapa sebelum melihat wajah secara lengkap, pikiran kita sudah lebih dulu membentuk gambaran tentangnya? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam otak kita?

Saya menduga, jangan-jangan otak kita secara aktif memanggil memori tentang wajah-wajah yang pernah kita lihat sebelumnya. Potongan informasi yang tersedia—mata, alis, bentuk wajah, gaya bicara—dipadukan dengan arsip pengalaman masa lalu. Dari sanalah otak menyusun sebuah visualisasi utuh tentang wajah orang yang masih tertutup masker. Ketika masker dilepas, mata kemudian mengirimkan data visual yang lebih lengkap, dan otak pun memperbarui gambaran yang sebelumnya sudah ia bangun.

Jika dugaan ini benar, maka artinya otak kita “melihat” lebih dulu, bahkan sebelum mata melihat secara penuh. Mata tidak semata-mata menjadi sumber utama penglihatan, melainkan pemasok data yang kemudian diverifikasi, dikoreksi, atau bahkan dibantah oleh otak. Proses ini tampaknya berlangsung sangat cepat, nyaris mustahil ditangkap secara sadar. Kita pun sulit memastikan mana yang lebih dulu bekerja: apakah mata yang mengirimkan data, atau otak yang terlebih dahulu membentuk gambaran. Bisa jadi keduanya berjalan bersamaan dalam sebuah tarian yang sangat halus. Saya tentu bukan ahli saraf, tetapi pengalaman sehari-hari seolah mengarah ke sana.

Dari sini, muncul beberapa implikasi yang menarik.

Pertama, menjadi masuk akal jika dikatakan bahwa penglihatan bukan semata kerja mata, melainkan hasil konstruksi aktif otak. Apa yang kita “lihat” barangkali adalah hipotesis otak yang terus-menerus diuji dan disempurnakan oleh data inderawi. Realitas visual, dengan demikian, tidak sepenuhnya datang dari luar, tetapi juga dibentuk dari dalam.

Kedua, penjelasan ini membuka ruang untuk memahami perbedaan spektrum warna dalam penglihatan manusia. Merah yang saya lihat mungkin tidak identik dengan merah yang Anda lihat. Kita sepakat menyebutnya “merah” karena bahasa dan kesepakatan sosial, tetapi pengalaman subjektifnya bisa jadi berbeda. Jika otak berperan besar dalam membangun pengalaman visual, maka perbedaan itu bukan sesuatu yang aneh, melainkan konsekuensi yang wajar.

Ketiga—dan ini mungkin yang paling sensitif—apakah mekanisme serupa berkorelasi dengan pengalaman sebagian orang yang mengaku melihat makhluk halus? Dengan kerangka ini, mungkin saja penglihatan tersebut merupakan visualisasi yang dibentuk oleh otak, entah karena memori, keyakinan, emosi, atau konteks tertentu. Karena visualisasi itu berasal dari dalam otak individu, maka wajar jika orang lain yang berada di tempat yang sama tidak melihat apa pun.

Pertanyaannya kembali ke awal: apakah hipotesis saya ini benar?

Saya tidak sedang menawarkan jawaban final. Yang ingin saya ajukan hanyalah sebuah cara memandang: bahwa melihat bukanlah proses pasif, melainkan dialog aktif antara dunia luar dan dunia batin. Dan mungkin, di situlah letak kerentanannya—sekaligus keindahannya—sebagai manusia yang melihat, menafsirkan, dan kadang keliru, bahkan sebelum kenyataan benar-benar tersingkap.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"