Pamer digital
-(Rabu, 7 Januari 2026)-
Baru-baru ini saya membaca sebuah postingan di X, tentang keputusan seseorang menonaktifkan sebuah media sosial. Awalnya saya enggan menyebut namanya, karena saya kira Anda pasti sudah tahu. Tetapi sudahlah, saya sebut saja: Instagram.
Postingan itu kemudian ramai ditanggapi. Intinya sama: seseorang merasa kesehatan mentalnya terganggu setelah melihat foto dan video pencapaian orang lain—baik itu teman, kenalan, atau orang-orang di sekitarnya.
Alih-alih memberi dorongan positif, linimasa justru sering melahirkan rasa iri, memicu perbandingan, dan tanpa sadar mendorong kita untuk terus berlomba. Perlombaan yang tidak pernah jelas garis akhirnya. Inilah yang kemudian membuat hidup terasa melelahkan, menguras energi, dan pada akhirnya menumbuhkan rasa minder.
Kenyataannya, fenomena itulah yang kini mendominasi media sosial. Orang lebih banyak memposting foto dan video capaian: liburan, kekayaan, prestasi, pernikahan, anak-anak, dan beragam momen lain yang pada pokoknya menampilkan kebahagiaan. Seolah mereka sedang berkata kepada dunia: lihat, saya hidup bahagia. Dan di balik semuanya, ada kebutuhan yang begitu manusiawi—kebutuhan akan validasi.
Bagi sebagian orang, “pamer digital” semacam ini terasa mengganggu. Maka tombol deactivate menjadi pilihan. Menariknya, dari postingan yang saya baca itu, ada banyak pengakuan bahwa hidup terasa lebih tenang setelah mereka menonaktifkan akun. Tetapi ada pula yang memilih jalan berbeda: bukan menjauh, melainkan memperkuat diri. Mereka memilih berdamai dengan dirinya sendiri, mengakui perasaannya, menahan diri dari rasa iri, dan belajar lebih banyak bersyukur atas apa yang telah dimiliki.
Membaca semuanya, saya tiba pada sebuah kesadaran tentang apa yang tengah terjadi pada generasi muda saat ini. Barangkali bukan karena hidup mereka baik-baik saja lalu tiba-tiba menjadi berat, melainkan karena beban itu kini bertambah satu lapis—beban untuk terlihat baik-baik saja. Isu mental health memang terdengar menguat, dan sering membuat kita heran: padahal dulu rasanya baik-baik saja.
Menonaktifkan media sosial mungkin bisa memberi ketenangan. Tetapi bila dipikir lebih jauh, tanpa media sosial pun kita tak pernah benar-benar bisa menutup diri dari pencapaian orang lain. Kita hidup dalam satu lingkungan; kabar tentang teman yang mendapat pekerjaan, meraih prestasi, menikah, atau pergi berlibur akan tetap sampai kepada kita—meski bukan lewat layar, ia tetap datang lewat percakapan, pertemuan, atau sekadar kabar dari mulut ke mulut.
Karena itu, persoalannya bukan pada ada atau tidaknya informasi, melainkan pada bagaimana batin kita meresponsnya. Maka alih-alih menutup akses terhadap cerita orang lain, yang barangkali lebih bijak justru menutup celah di dalam diri kita sendiri—celah tempat rasa iri mudah menyusup. Menguatkan batin, artinya menegaskan bahwa kendali tetap ada di tangan kita. Bahwa kita yang memilih bagaimana cara memproses dunia, bukan dunia yang menentukan bagaimana kita merasa.
Pada akhirnya, mungkin memang sesederhana itu: obat mujarab menghadapi kenyataan yang tampak lebih baik dari nasib kita bukanlah menghapus dunia di luar, melainkan menata dunia di dalam. Dan penataannya selalu bermula dari laku yang paling hening namun paling sulit: bersyukur.
Sebab, rasa syukur bukan tentang menyangkal kenyataan, melainkan tentang menerima bahwa setiap orang berlari di lintasan yang berbeda. Dan kita, sebenarnya, tidak sedang berlomba dengan siapa pun—kecuali dengan diri kita sendiri.
Karena itu, pada titik paling lelah, kita tidak membutuhkan tepuk tangan. Kita hanya membutuhkan napas yang kembali panjang. Dan syukur, barangkali, adalah cara paling jujur untuk mendapatkannya.