Fatamorgana liburan

-(Sabtu, 3 Januari 2026)-

Ketika liburan long weekend seperti minggu kemarin, apa yang sebenarnya kita lakukan?

Sebagian besar orang menjawab hal yang hampir seragam: pergi healing, piknik, atau wisata bersama keluarga. Mereka menempuh perjalanan ke luar kota, mendatangi tempat wisata, berkunjung ke pusat perbelanjaan, mencoba kuliner baru. Semua itu tampak lumrah, bahkan sudah menjadi semacam ritual zaman.

Namun justru di titik ketika sesuatu terasa paling lumrah, saya merasa kita perlu berhenti dan bertanya lebih jauh: mengapa manusia modern merasa perlu melakukan itu?

Tidakkah cukup berlibur di dalam kota, di pinggiran kota, atau sekadar pergi ke desa untuk makan siang bersama di tepi sungai? Tidakkah itu juga bisa disebut piknik? Bukankah esensinya sama—menikmati waktu, kebersamaan, dan suasana yang berbeda dari rutinitas?

Lalu, mengapa orang harus menghabiskan tenaga, energi, bahkan kelelahan berkendara jauh hanya untuk mendatangi satu lokasi yang diyakini bisa menghibur diri?

Apakah ini sekadar upaya mengatasi kebosanan? Atau pertanyaannya perlu kita rumuskan lebih tepat: apakah manusia memang akan selalu diliputi rasa bosan ketika terlalu lama tinggal di satu tempat? Apakah rasa jenuh itu benar-benar fitrah, atau justru diperkuat oleh cara hidup modern yang menuntut stimulasi tanpa henti?

Bisa jadi, ada narasi besar yang terus-menerus dipropagandakan—narasi yang membawa ilusi bahwa kebahagiaan baru terasa valid ketika seseorang pergi berwisata.

Jika begitu, bukankah liburan bukan lagi sekadar kebutuhan jiwa, melainkan juga kebutuhan industri yang menanamkan rasa perlu, bahkan rasa wajib, lewat pengaruh sosial dan iklan halus yang terasa alamiah?

Rasa-rasanya, narasi liburan seperti yang kita kenal sekarang memang bukan sesuatu yang sudah lama bersemayam dalam peradaban. Ini terasa baru, tumbuh seiring perkembangan zaman dan terutama: perkembangan bisnis wisata.

Setidaknya, itulah yang saya rasakan dari pengalaman hidup saya sendiri. Dulu, sebagian besar orang tetap tenang menikmati kehidupannya di sekitar tempat tinggalnya. Tak ada dorongan kuat untuk pergi jauh hanya demi merasakan “suasana liburan”. Kesenangan ditemukan dalam hal-hal yang dekat, sederhana, dan akrab.

Karena sesungguhnya, kebahagiaan tidak ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi oleh suasana hati—oleh cara kita memaknai waktu, bukan oleh jarak yang kita tempuh.

Tetapi, bukankah dorongan untuk pergi jauh itu kini sering muncul ketika kita melihat orang lain melakukannya? Ketika media sosial menampilkan kebahagiaan yang diukur oleh perjalanan, dokumentasi, dan destinasi? Jika demikian, apakah ini benar-benar kebutuhan personal, atau sekadar respons meniru yang sudah dipelajari dan dimanfaatkan?

Sifat, perilaku, dan karakter dasar manusia memang telah lama diteliti—keinginan mengikuti arus, meniru, merasa perlu seperti orang lain—dan pengetahuan itu kini dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis.

Dengan kata lain, nampaknya ada banyak upaya manipulatif untuk mengeruk keuntungan dari manusia, tetapi ia tidak terasa seperti manipulasi, karena semuanya dikemas seolah berjalan alamiah. Padahal, manipulasi yang paling efektif memang bukan yang memaksa, melainkan yang membuat kita merasa itu adalah keputusan sendiri.

Maka, ketika semua tampak berjalan secara alamiah, saya merasa justru di situlah kita harus paling waspada.

Kita perlu bertanya: benarkah ini murni kebutuhan kita? Ataukah ada kekuatan yang menanamkan ilusi agar kita merasa kurang bahagia jika tidak pergi?

Pertanyaan ini bukan untuk menolak liburan, tetapi untuk menyadarkan diri agar kita tidak terjebak pada kebahagiaan fatamorgana—kebahagiaan yang terlihat meyakinkan dari kejauhan, tetapi kosong ketika didekati, dan akhirnya menyisakan kemubaziran yang kita sebut “kesenangan”.

Semua pertanyaan ini saya ajukan semata-mata agar kita tidak salah menempatkan sumber kebahagiaan.

Agar kita tidak terjebak pada ilusi, pemborosan tenaga, dan keputusan yang kita kira alamiah—padahal bisa jadi ia hanya terencana dengan sangat rapi.

Karena mungkin saja, yang sebenarnya kita perlukan bukanlah liburan ke tempat yang jauh…

melainkan liburan dari ilusi yang membuat kita merasa harus pergi.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"