Kentara AI
-(Sabtu, 24 Januari 2026)-
Saya kerap merasa penasaran dengan nyinyiran orang terhadap penggunaan AI. Salah satu kalimat yang sering saya dengar kurang lebih begini: “Script hasil AI itu kentara sekali.”
Script di sini bisa berarti banyak hal—dialog, cerpen, artikel, atau tulisan dalam bentuk apa pun. Bisa jadi, yang dimaksud adalah keseluruhan produk tulisan. Namun justru di titik itu pertanyaan penting muncul: kalau memang kentara, memangnya kenapa?
Ucapan semacam itu seolah mengandung pesan tersirat: pakai AI tidak apa-apa, asal jangan ketahuan. Atau lebih jauh lagi, ia adalah bentuk penolakan total terhadap AI. Jika yang terakhir ini yang dimaksud, saya rasa sikap tersebut tidak lebih dari kekolotan yang dibungkus moralitas.
Bagaimana tidak? Kita hidup di zaman ketika AI sudah hadir sebagai bagian dari realitas sehari-hari. Menolak bantuan AI demi gengsi—demi klaim “orisinalitas manusia”—terdengar heroik, tapi sekaligus naif. Seperti bersikeras menulis dengan pena bulu angsa di tengah dunia yang telah mengenal mesin cetak. Bukan tidak boleh, tetapi jangan heran jika tertinggal jauh dalam persaingan. Terlepas dari pro dan kontra, satu hal sulit dibantah: AI telah membuat banyak karya menjadi lebih rapi, lebih cepat, bahkan sering kali lebih baik.
Namun, menerima AI secara membabi buta juga bukan pilihan yang lebih bijak. Menggantungkan sepenuhnya pikiran dan kreativitas pada mesin adalah bentuk konyol yang lain—cermin terbalik dari sikap penolakan total. Di satu sisi kita menutup pintu rapat-rapat, di sisi lain kita menyerahkan kunci rumah sepenuhnya.
Maka, barangkali sikap yang paling masuk akal adalah sikap pertengahan. AI diperlakukan sebagai alat bantu, bukan sebagai tuan, dan bukan pula sebagai musuh. Seperti kompas di tangan pelaut: ia membantu menentukan arah, tetapi tidak menggantikan keberanian membaca ombak dan angin.
Pada akhirnya, semua kembali kepada pilihan masing-masing individu. Narasi mana yang ingin ia percaya: narasi tentang manusia yang berdiri sendirian dengan segala keterbatasannya, atau narasi tentang manusia yang memanfaatkan teknologi—termasuk AI—sebagai perpanjangan tangan dari kecerdasannya sendiri. Teknologi, toh, sejak lama telah membantu hidup kita, dari mesin hitung hingga mesin pencari.
Jika perdebatan itu diajukan kepada saya, tanpa ragu saya memilih narasi kedua. Bagi saya, AI bukan penanda kemalasan atau kehilangan orisinalitas. Ia hanyalah alat. Dan seperti alat apa pun, nilai sejatinya terletak pada siapa yang menggunakannya, untuk tujuan apa, dan dengan kesadaran seperti apa.