Nafsu makan
-(Rabu, 21 Januari 2026)-
Nafsu makan. Pernahkah Anda bertanya, mengapa urusan makan saja disebut demikian—mengapa perlu ada tambahan kata nafsu?
Ada konotasi negatif yang melekat pada kata nafsu. Ia menunjuk pada sebuah dorongan yang sulit dibendung oleh manusia itu sendiri. Bukan berarti tidak ada manusia yang mampu mengendalikannya, tetapi kenyataannya banyak orang justru terjerumus pada berbagai hal yang kerap diawali oleh kata yang sama: nafsu seksual, nafsu amarah, termasuk nafsu makan.
Tak sedikit orang yang gagal melakukan diet atau menjaga kesehatan tubuhnya bukan karena tidak tahu caranya, melainkan karena tak kuat menahan nafsu makan. Seolah-olah manusia sedang bertempur dengan dirinya sendiri, berusaha melawan godaan yang terus mengajak untuk mengunyah—lagi dan lagi.
Dari kesadaran inilah kemudian muncul berbagai upaya untuk membendung, atau setidaknya mengelabui, nafsu makan tersebut. Ada yang mengunyah es batu, ada pula yang mencoba berbagai trik lain yang entah apa saja bentuknya. Semua lahir dari satu kenyataan yang sama: menahan nafsu makan bukan perkara sederhana.
Dalam agama, kemudian diajarkan tentang puasa. Selain sebagai ibadah, puasa sesungguhnya adalah latihan konkret untuk menahan nafsu makan itu sendiri. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak selalu harus menuruti dorongan, dan bahwa menahan diri—meski sulit—bukanlah sesuatu yang mustahil.