Belum berhasil

-(Minggu, 15 Maret 2026)-

Ada satu penyesalan kecil yang tersisa setelah saya pergi dari daerah itu: saya belum sempat melakukan “ritual perpisahan” dengan sepiring ketupat Kandangan. Barangkali ia memang salah satu menu favorit di antara banyak makanan lain yang saya sukai—meski sebenarnya saya bukan tipe orang yang fanatik pada satu jenis kuliner.

Namun waktu dan keadaan sepertinya tidak memberi ruang untuk ritual sederhana itu. Saya pergi begitu saja, tanpa sempat menutup bab itu dengan rasa yang dulu kerap saya nikmati.

Tentu saja, jika dipikir-pikir, penyesalan ini tidak sungguh-sungguh soal makanan. Ketupat Kandangan itu lebih seperti penanda—sebuah simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar: episode kehidupan yang berakhir tanpa jeda refleksi yang cukup.

Setelah meninggalkan satu fase kehidupan, selalu ada pertanyaan yang tertinggal seperti gema di ruang kosong. Mengapa saya baru di akhir masa penugasan berkeliling ke masjid dan mushola? Mengapa saya tidak membawa pulang sebongkah batu bara sebagai penanda tempat itu? Mengapa saya pergi begitu saja, tanpa sempat menoleh lebih lama?

Dari situ muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya telah saya tinggalkan di sana? Apa legasi yang benar-benar terukir?

Pada titik ini, jelas bahwa soal makanan menjadi hal yang paling ringan. Yang lebih esensial adalah soal prestasi, capaian, output—dan terutama outcome. Apakah ada sesuatu yang sungguh mengubah cara berpikir, cara bekerja, atau bahkan budaya di lingkungan itu? Apakah ada dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat?

Atau jangan-jangan yang tersisa hanya jejak-jejak yang lebih mirip gema di ruang media: pemberitaan, dokumentasi kegiatan, atau postingan yang tampak rapi tetapi sebenarnya lebih dekat dengan pencitraan daripada perubahan.

Di antara berbagai renungan itu, ada satu hal yang paling saya sesali.

Saya belum mampu memperbaiki pola belanja—baik di instansi vertikal maupun di pemerintah daerah. Secara keseluruhan masih  menumpuk di akhir tahun. Padahal resolusi itu bukan sesuatu yang baru. Ia sudah lama saya tuliskan, bahkan menjadi semacam komitmen pribadi yang selalu saya bawa ke mana pun penugasan membawa saya.

Kenyataannya, saya seperti berhadapan dengan tembok. Ada banyak faktor yang berada di luar kendali saya—ruang-ruang yang memang tidak bisa saya masuki. Tetapi jika alasan itu saya kemukakan, ia akan terdengar seperti pembelaan diri. Dan saya tidak ingin bersembunyi di balik kalimat semacam itu.

Lebih jujur jika saya katakan: saya belum berhasil.

Mungkin ada perubahan kecil di sana-sini. Tetapi dalam rentang waktu tiga tahun, perubahan itu terasa terlalu tipis untuk disebut kemajuan. Ia lebih menyerupai riak kecil di permukaan air yang segera hilang sebelum sempat menjadi arus.

Jika pun ada prestasi yang bisa disebut, rasanya ia lebih seperti bunga-bunga di tepi jalan: indah dilihat, tetapi tidak benar-benar mengubah arah perjalanan. Bunga itu mungkin menyenangkan saat dipandang dari dekat—bahkan kadang menjadi penghibur ketika berhadapan dengan tembok yang keras—tetapi ia tidak serta-merta memberi dampak berarti bagi masyarakat.

Ada kemungkinan prestasi-prestasi kecil itu hanya menjadi semacam keasyikan di lingkungannya sendiri. Sebuah ruang gema yang saling memantulkan pengakuan. Dari luar tampak sebagai keberhasilan, tetapi di dalamnya mungkin hanya pengakuan yang bersifat semu.

Karena pada akhirnya ukuran yang paling jujur bukanlah tepuk tangan di ruang rapat atau dokumentasi kegiatan yang tertata rapi. Ukurannya adalah perubahan yang benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat.

Dan dalam ukuran itu, saya harus mengakui dengan lapang: saya belum sampai di sana.

Barangkali suatu hari nanti, jika saya kembali ke tempat serupa dan sempat mencicipi kulinernya, rasanya tidak lagi sekadar soal makanan. Ia mungkin akan menjadi pengingat bahwa setiap fase kehidupan seharusnya ditutup bukan hanya dengan kenangan—tetapi juga dengan perubahan yang nyata.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"