Waktu, Alam, Manusia
-(Kamis, 11 September 2025)-
Waktu terus bergerak maju. Ia tak pernah mundur. Namun, jadwal sholat nampaknya justru bergerak maju dan mundur.
Saya mencoba memperhatikan jadwal sholat setiap hari. Rasanya kini waktu Subuh lebih awal dibanding beberapa waktu lalu. Dulu, awal Subuh baru masuk sekitar pukul lima lewat. Sekarang, sebelum pukul lima kita sudah mendengar azan Subuh. Ada selisih lebih dari lima menit yang terasa signifikan.
Perubahan ini berpengaruh pula pada jadwal Dhuhur dan sholat lainnya, yang juga datang lebih cepat. Barangkali hal ini dipengaruhi oleh rotasi bumi, revolusi bumi mengelilingi matahari, serta siklus alamiah yang memang bergerak demikian adanya.
Kelak, jadwal sholat itu akan kembali bergeser. Subuh tidak lagi sebelum pukul lima, tetapi sesudahnya. Demikian pula dengan Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya—semuanya akan mengalami perubahan perlahan. Inilah yang selalu hadir dalam hitungan waktu: sesuatu yang terus berubah, sementara kita ada di dalam arusnya.
Perubahan juga nyata terlihat di sekitar kita. Kadang disebabkan pembangunan manusia, kadang karena proses alamiah yang terus berlangsung. Namun, ketika kita mendongak ke langit pada waktu Subuh dan mengarahkan pandangan ke timur, kita masih melihat bintang fajar yang setia bersinar. Ia tampak seolah tetap berada di tempatnya. Begitu pula dengan bulan yang kini tak lagi bundar sempurna, namun tetap menerangi malam dengan cahaya temaramnya. Berkat itu, jalan setapak yang gelap menjadi lebih terlihat.
Lantas, bagaimana dengan manusia penghuni bumi ini? Apakah ia terus berubah atau tetap sama seperti nenek moyangnya?
Tentu saja, kehidupan sosial manusia terus mengalami perubahan. Peradabannya semakin modern, sains dan teknologi berkembang pesat, menghadirkan kemajuan besar bagi kehidupan. Namun, ada sesuatu yang tetap sama sejak dahulu kala: manusia selalu mencari makna.
Dengan dorongan itu, manusia membangun konsep-konsep, baik dalam agama, filsafat, maupun ilmu pengetahuan, untuk menjawab hasrat akan pengetahuan serta misteri kehidupan. Meski demikian, pada sebagian manusia, perjuangan terbesar tetaplah melawan dirinya sendiri.
Akhirnya, kita bisa melihat bahwa manusia berada dalam dialektika yang sama dengan alam: terus berubah, namun sekaligus tetap. Jadwal sholat yang maju dan mundur adalah cermin kecil dari hukum semesta, sementara pencarian makna adalah cermin dari fitrah manusia yang tak pernah padam.