Kuantum pangan
-(Kamis, 4 September 2025)-
Banyak orang mungkin akan mengernyit kalau mendengar fisika kuantum dibicarakan di tengah hiruk-pikuk saat ini. Bagaimana tidak? Kita masih sibuk dengan debat politik sampai urusan remeh yang terus jadi bahan ribut. Lalu tiba-tiba, misalnya ada yang bicara soal partikel, gelombang, dan teori aneh yang terdengar jauh dari tanah.
Tapi, bukankah ponsel yang kita pakai, internet yang kita akses, bahkan mesin MRI di rumah sakit—semua lahir dari riset kuantum? Artinya, ilmu yang kelihatan “langit-langit” itu sebenarnya sudah menyusup ke dalam keseharian kita. Kita mungkin tidak mengerti rumusnya, tapi kita menikmati hasilnya.
Lalu, apakah ada kaitannya dengan kita hari ini, yang sedang fokus pada makan bergizi gratis, koperasi desa, ketahanan pangan, dan energi? Jawabannya: ada. Barangkali teknologi kuantum bisa membuat panel surya lebih efisien, baterai lebih awet, bahkan membantu memetakan distribusi pangan. Sensor kuantum bisa memantau tanah dan air di desa, memastikan tanaman tumbuh sehat. Jadi, riset ini bukan hanya urusan laboratorium, tapi bisa menyentuh dapur rumah tangga.
Tentu, tidak semua orang harus jadi ilmuwan. Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, seaneh apapun awalnya, pada akhirnya bisa membumi. Dan mungkin, dengan membiasakan diri melihat dunia lewat kacamata ilmiah, kita bisa mengurangi kebiasaan ribut soal hal-hal kecil, lalu mulai terbiasa mencari solusi nyata.
Ilmu memang lahir di laboratorium, tapi manfaatnya bisa terasa di meja makan, di desa, bahkan di percakapan sehari-hari. Jadi, bagaimanapun sains adalah salah satu aspek yang mesti didorong, agar bisa membantu masa depan kita.