Memantau situasi
-(Minggu, 31 Agustus 2025)-
Tidak seperti biasanya, hari ini saya memutuskan berkeliling kota untuk memantau situasi. Informasi dari beberapa pihak sebenarnya sudah jelas: tidak ada aksi demonstrasi. Namun, saya ingin memastikan langsung dan menilai sejauh mana ketentraman serta kedamaian di kota ini.
Perjalanan saya dimulai dari gedung dewan. Kondisi terlihat aman, tanpa kerumunan massa. Dari sana, saya melanjutkan ke Polres. Situasi pun sama: tenang, tidak ada tanda-tanda demonstrasi. Setelah itu, saya bergerak melewati kompleks pendopo bupati menuju area UMKM Minggu pagi. Pemandangan di sana pun serupa; kegiatan masyarakat berlangsung normal, seolah tidak terpengaruh oleh suasana yang tengah memanas itu.
Saya meneruskan perjalanan dengan mengecek beberapa perkantoran. Semuanya tampak aman. Sesekali, saya melewati kerumunan sepeda motor yang diparkir di sekitar warung. Jangan-jangan? Rupanya orang-orang sedang bermain atau menyaksikan permainan catur. Barangkali karena hari libur, mereka memanfaatkan waktu untuk melepas penat setelah seminggu bekerja. Mungkin pula karena kesibukan bekerja itu, pikiran untuk melakukan demonstrasi tidak muncul di kalangan masyarakat kota ini.
Di awal perjalanan, saya sudah memperkirakan waktu agar bisa menutup rangkaian pemantauan dengan sholat Dhuhur berjamaah di sebuah masjid. Tepat saat azan berkumandang, saya tiba di masjid besar yang letaknya agak jauh dari perkampungan. Kondisi masih sepi. Barangkali karena waktu Dhuhur dan hari libur, jumlah jamaah tidak banyak. Biasanya, ketika hari kerja, jamaah lebih ramai.
Meski demikian, saya bersyukur dapat menambah jumlah jamaah Dhuhur hari itu. Setelah sholat selesai, saya iseng menghitung: ada tujuh orang ditambah satu imam, sehingga total delapan jamaah. Jumlah yang sedikit itu tidak mengurangi semangat sang imam. Ia tetap memimpin dzikir dan wirid sebagaimana tradisi. Saya pun mengikutinya hingga tuntas. Hingga akhirnya, hanya tersisa tiga orang: imam, saya, dan muazin. Setelah doa bersama, kami berdiri, saling bersalaman, dan melantunkan sholawat.
Usai rangkaian sholat, saya mundur ke tengah masjid untuk menunaikan sholat rawatib. Setelah itu, saya sempat mengambil foto suasana masjid, lalu melangkah keluar. Ada satu rasa yang menyentuh jauh ke relung hati. Pertanyaan besar yang beberapa bulan ini tersimpan dalam benak, kini menemukan jawabannya. Pertanyaan itu bukan tentang demo, bukan soal jumlah jamaah, dan bukan pula mengenai masjid. Ia adalah sebuah pertanyaan eksistensial. Biarlah saya menyimpannya sendiri…