Melawan arus
-(Selasa, 30 September 2025)-
Diluar terdengar suara hujan ketika saya terbangun. Spontan tangan meraih smartphone, sekadar melihat jam. Waktu belum menunjukkan pukul 4 pagi—masih ada waktu hampir satu jam sebelum alarm berbunyi.
Namun, muncul dorongan untuk bangun lebih awal dan melanjutkan kebiasaan harian: sholat tahajud. Akhirnya saya beranjak ke kamar mandi. Selepas wudhu, wajah saya keringkan dengan handuk, lalu saya kenakan sarung untuk sholat. Seperti biasa, tahajud saya cukupkan empat rakaat dengan dua salam, kemudian ditutup dengan witir tiga rakaat sekaligus. Setelah itu, zikir dan doa saya panjatkan.
Biasanya setelah rangkaian ibadah itu, waktu subuh sudah dekat. Tapi kali ini masih ada setengah jam. Saya pun merebahkan diri di kursi panjang sambil menggenggam smartphone. Dari situ muncul niat untuk menulis sesuatu. Saya buka aplikasi catatan, berharap ada ide segar yang bisa segera dituliskan. Namun, lima menit berlalu tanpa kata, hanya hening dan pencarian gagasan dalam kepala.
Akhirnya saya menulis coretan ini, yang sejatinya lahir dari kebuntuan. Dan tepat ketika menuliskan paragraf ini, alarm bangun tidur saya berbunyi. Dengan cepat saya matikan, lalu kembali melanjutkan tulisan.
Tetap saja, saya merasa belum menemukan gagasan yang benar-benar ingin dituangkan. Entahlah, mungkin saya memang membutuhkan inspirasi baru agar pikiran lebih jernih dan ide bisa mengalir lancar.
Sebenarnya ada banyak topik menarik yang bisa saya angkat—terutama isu-isu hangat yang belakangan ramai diperbincangkan. Tapi di situlah dilema muncul. Mengapa harus ikut-ikutan menulis tentang hal yang sedang heboh? Bukankah itu membuat saya sekadar jadi pengikut arus? Ego saya menolak hal itu; ia selalu berbisik agar tidak merendahkan diri dengan larut dalam isu yang sama dengan kebanyakan orang.
Implikasinya jelas: tema-tema tulisan saya sering menjauh dari hal-hal aktual. Ego ini menuntut saya untuk menulis di luar arus, meski konsekuensinya tulisan saya kadang tampak tak “sejalan” dengan percakapan publik. Namun, mungkin justru di situlah letak otentisitasnya, sebuah upaya menjaga jarak dari hiruk pikuk. Agar tetap punya suara yang bukan sekadar gema dari keramaian.