Menantang usia
-(Sabtu, 13 September 2025)-
Seiring waktu, nampaknya ingatan saya mulai berubah, tak lagi setajam sebelumnya. Baru saja saya menyadari, beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah gagasan menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Namun sampai saat ini, saya benar-benar lupa gagasan apa itu.
Saya hanya mengingat momen ketika ide itu muncul. Saat itu, saya sempat berniat menuliskannya di catatan HP, tapi saya urungkan karena merasa yakin akan mampu mengingatnya. Meski demikian, ada pula rasa khawatir yang terbersit: bagaimana jika saya justru lupa? Kekhawatiran itu kini terbukti.
Hal ini bukanlah kejadian pertama, melainkan sudah berulang kali saya alami. Karena itu, saya merasa perlu berkomitmen untuk segera menuliskan setiap ide yang muncul, tanpa menunda. Rupanya, mengandalkan ingatan saja tak lagi cukup, sebab ia tak setajam dulu.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang salah dengan usia sehingga membuat kemampuan manusia menurun?
Kita sering mendengar permakluman dengan mengatasnamakan umur. Ketika penglihatan berkurang, kita beralasan karena usia yang kian lanjut. Saat langkah tak lagi tegak, kita menyalahkan usia. Pun ketika semakin sering lupa, jawabannya pun sama: usia.
Secara biologis, penuaan memang membawa perubahan. Sel-sel tubuh melemah, metabolisme melambat, dan otak pun mengalami penurunan kognitif. Ingatan menjadi lebih mudah bocor, perhatian lebih cepat teralihkan, dan kemampuan belajar tidak seefektif saat muda. Dengan kata lain, usia adalah faktor yang nyata dalam menurunnya berbagai fungsi tubuh.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mungkinkah kita menghentikan usia? Maksudnya, meski waktu terus berjalan, bisakah tubuh, kemampuan motorik, dan kognitif manusia tetap bertahan, bahkan meningkat?
Apakah ada resep, jamu, minuman, makanan, atau obat yang mampu menjaga tubuh agar tetap muda? Sampai hari ini, rasanya manusia belum mampu melawan kodrat alam itu. Seberapa kuat, tangguh, atau jago seseorang, ia tetap tak bisa mengalahkan waktu.
Namun, bayangkan jika manusia kelak berhasil menjaga organ tubuh agar tidak menurun, justru meningkat seiring usia. Penemuan semacam itu akan menjadi revolusi besar dalam sejarah. Semua orang tentu akan berlomba-lomba mencobanya. Peradaban manusia pun akan berubah, sebab batas-batas biologis yang selama ini dianggap wajar, akan runtuh.
Hanya saja, di titik itu akan muncul sebuah pertanyaan filosofis: jika manusia bisa hidup abadi dengan tubuh yang tak menua, apa lagi yang akan ia cari? Apakah sekadar kesenangan yang tak ada ujungnya, atau justru makna hidup yang lebih dalam?
Mungkin di sinilah letak misteri sekaligus ironi kehidupan. Keterbatasan yang dibawa oleh usia justru memberi nilai pada setiap pengalaman. Tanpa itu, mungkinkah hidup masih memiliki arti?