Subuh singgah
-(Sabtu, 14 Maret 2026)-
Subuh itu datang di tengah perjalanan menuju sebuah kehidupan baru. Dalam perjalanan tersebut, kami sempat berhenti di sebuah masjid yang bagi saya tampak seperti mercusuar: bangunannya besar, menjulang, dan terasa sengaja dibangun bukan sekadar sebagai tempat ibadah. Ada kesan kuat bahwa ia juga menyimpan jejak—semacam legacy—yang ingin terus menjaga nama pendirinya tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang datang bersujud di sana.
Menariknya, setelah beberapa tahun berada di daerah ini, baru pada pagi itu wajah saya akhirnya bersentuhan dengan sajadah masjid tersebut.
Sebuah kebetulan yang terasa seperti keberuntungan.
Sejujurnya, saya tidak pernah merencanakan untuk berhenti salat Subuh di sana. Perjalanan kami seharusnya hanya melintas. Namun entah bagaimana, rute yang kami tempuh—atau mungkin keputusan kecil yang diambil di tengah jalan—membuat kami berhenti di halaman masjid megah itu. Dalam momen seperti ini, manusia sering kali mulai bertanya: apakah ini sekadar kebetulan, atau justru bagian dari skenario yang lebih besar yang sedang kita jalani tanpa sepenuhnya kita pahami?
Apalagi hari itu adalah hari Jumat.
Di daerah ini, Subuh hari Jumat memiliki tradisi yang khas: imam membaca Surah As-Sajdah pada rakaat pertama. Saya pun teringat bahwa mungkin ini akan menjadi salah satu Subuh terakhir saya di daerah ini sebelum melanjutkan episode kehidupan yang baru. Sebuah kesadaran yang tiba-tiba membuat momen tersebut terasa lebih bermakna.
Karena itu saya memilih untuk tidak terburu-buru.
Saya ingin menikmati seluruh rangkaian ibadah pagi itu—salat, dzikir, hingga doa selepasnya—sebagaimana alurnya berjalan. Waktu memang terasa lebih panjang, tetapi saya tidak melihatnya sebagai beban. Toh, masih ada jeda waktu sebelum saya benar-benar “terbang tinggi” meninggalkan wilayah ini.
Dalam ketenangan Subuh itu, saya menyadari satu hal sederhana: manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencari makna dari setiap peristiwa yang menimpanya. Bahkan dari sesuatu yang tampaknya kecil dan tidak direncanakan.
Persinggahan singkat di masjid itu pun memunculkan berbagai pertanyaan di benak saya. Adakah maksud tertentu di balik kebetulan ini? Apakah ia hanya pertemuan yang acak antara perjalanan, waktu, dan ruang? Atau justru sebuah isyarat halus yang kelak baru kita pahami setelah semuanya berlalu?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu barangkali tidak selalu membutuhkan jawaban yang pasti. Kadang ia cukup menjadi ruang refleksi, seperti jendela kecil yang mengingatkan bahwa perjalanan hidup tidak selalu bisa dijelaskan sepenuhnya oleh logika manusia.
Yang jelas, pengalaman itu kini menjadi bagian dari ingatan saya. Ia menambah satu lagi daftar masjid yang pernah saya singgahi—bukan sekadar sebagai tempat berhenti, tetapi sebagai titik jeda yang memberi kesempatan untuk merenung.
Dan tentu saja, pikiran saya kemudian melangkah lebih jauh.
Jika nanti saya benar-benar berada di tempat baru, apakah tradisi Subuh di sana akan sama seperti yang saya alami pagi ini? Atau justru menghadirkan warna yang berbeda?
Pertanyaan itu masih menggantung. Namun seperti halnya perjalanan hidup, jawabannya hanya bisa ditemukan dengan satu cara: berjalan, mengalami, dan memberi waktu bagi pengalaman untuk berbicara.