Bubur siring

-(Rabu, 8 Oktober 2025)-

Pagi-pagi, sekitar jam enam, saya sudah keluar meninggalkan lokasi tempat menginap. Praktis, hanya sembilan jam saya berada di tempat itu.

Kami kemudian meluncur ke sebuah warung untuk sarapan. Di tempat ini tersedia menu khas makanan setempat. Saya memilih menu bubur — mirip bubur ayam yang biasa dijual di mana-mana, tetapi tanpa kuah. Buburnya sudah gurih karena dimasak dengan santan. Katanya.

Yang menarik adalah lauk telor pindangnya. Bukan telor ayam, melainkan telor bebek. Karena masih pagi, masakan itu jelas masih sangat segar — bahkan masih panas. Saya pun memakannya pelan-pelan, apalagi saya juga memesan teh panas. Yang benar-benar panas, bukan hangat.

Seingat saya, baru kali itu saya mencoba bubur khas daerah ini. Saya sendiri tidak tahu, ke mana saja selama ini. Mengapa baru kali ini mencobanya, padahal sudah sekian lama berada di daerah ini dan sudah mencoba berbagai menu lainnya. Rupanya, ada satu menu yang hampir terlewatkan.

Ah, jangan-jangan ini juga yang membuat saya masih bertahan di sini — karena merasa belum menyelesaikan misi hingga tuntas. Ternyata, ada satu menu yang belum saya nikmati. Hmmm… ini jelas sekadar cocokologi. Sebuah upaya diri menghubungkan sesuatu yang sebenarnya tak berkaitan. Entahlah.

Tak sampai sejam, saya menyelesaikan “misi” menu khas pamungkas itu. Hari masih pagi, sementara meeting baru akan dimulai lebih dari dua jam lagi.

Kami kemudian menuju siring, di pinggiran sungai besar yang membelah kota ini. Tiba di sana, saya melihat sudah banyak orang beraktivitas olahraga. Ada yang berlari, ada pula yang sekadar berjalan menyusuri trotoar di tepi sungai.

Saya berdiri di pinggir sungai, memandangi aliran air dan suasananya. Seolah ingin melepaskan sesuatu yang terus menggelayuti pikiran — sesuatu yang senantiasa bercokol dalam benak dan tak kunjung pudar. Tapi sudahlah, hidup mesti terus bergerak, sebagaimana aliran sungai di depan saya yang terus mengalir sampai jauh.

Tak sampai setengah jam saya berada di pinggir sungai itu. Kami segera beranjak, namun belum menuju lokasi pertemuan.

Saya meminta diantar ke masjid raya. Setibanya di sana, saya langsung bergegas ke tempat wudhu. Sesaat setelah memasuki masjid, saya berdiri, mengangkat tangan, dan memulai salat dhuha. Entahlah, pikiran terasa sedikit lebih tenang.

Barangkali, kekalutan pagi itu memang harus diakhiri di tempat suci. Ada begitu banyak rasa bersalah dan penyesalan — yang mungkin hanya bisa diselesaikan oleh Tuhan.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"