Pembiasaan kebersihan
-(Jumat, 10 Oktober 2025)-
Untuk sementara saya bisa mengambil kesimpulan: keimanan atau religiusitas masyarakat adalah satu hal, dan kebersihan adalah hal lain. Keduanya tidak otomatis berhubungan. Tingginya keimanan seseorang tidak serta-merta tercermin dalam perilaku bersihnya.
Pernyataan ini tentu terdengar aneh dan mungkin banyak orang akan membantahnya. Namun saya bisa menunjukkan faktanya. Bagaimana mungkin di sebuah WC di masjid raya yang megah, justru tercium bau asap rokok dan terlihat puntung rokok di sudut ruangan?
Dari situ saya sampai pada kesimpulan kedua. Kebiasaan hidup bersih dan sehat tidak cukup hanya dengan menunjukkan satu dalil agama. Ia mesti diajarkan, dilatih, dan dibiasakan. Pembiasaan itulah yang kemudian akan membentuk karakter, dan pada akhirnya berujung menjadi budaya.
Karena itu, di masyarakat yang masih taat pada pemimpin agama, barangkali yang perlu dilakukan adalah meninjau kembali materi ceramah yang disampaikan. Apakah lebih banyak membicarakan kehidupan setelah mati, ataukah menyentuh topik-topik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Soal kebersihan, misalnya, seharusnya mendapat penekanan lebih besar dan diulang-ulang. Toh, ada dalil agama yang jelas memerintahkan untuk hidup bersih dan sehat.
Saya membayangkan pemerintah sebetulnya bisa berperan lebih dalam memfasilitasi gerakan hidup bersih dan sehat ini. Dimulai dari isi ceramah agama yang perlu diatur agar lebih relevan dengan kehidupan sosial, terutama tentang kebersihan, kesehatan, dan juga agar umat tidak mudah termakan berita hoaks.
Dengan anggaran yang dimiliki, pemerintah daerah juga sangat mungkin mengadakan pelatihan khusus tentang kebersihan tempat ibadah bagi para pengurus dan petugas. Di sana bisa diberikan materi mengenai pentingnya kebersihan, disertai praktik langsung oleh tenaga profesional yang bergerak di bidang jasa kebersihan. Dugaan saya, para petugas kebersihan di tempat ibadah, bahkan mungkin juga di kantor-kantor pemerintahan, belum pernah mendapatkan pelatihan atau sertifikasi.
Selain itu, kampanye masif tentang kebersihan dan pembelajaran perilaku bersih sejak dini di sekolah maupun pesantren juga perlu dilakukan. Perilaku-perilaku yang keliru mesti diajarkan untuk dihindari, misalnya tidak merokok di WC, tidak merokok sambil berkendara, dan tidak membuang sampah sembarangan.
Hal ini memang bukan sesuatu yang baru dan mungkin terlihat sepele. Namun jika tidak ditangani dengan serius, ia akan berkembang menjadi masalah sosial yang semakin besar di kemudian hari. Bahkan, saat ini pun sudah menjadi masalah nyata.