Hujan bandara
-(Kamis, 23 Oktober 2025)-
Saya duduk di dekat jendela, ketika siang itu hujan turun. Saya mengamati petugas maskapai itu, yang sedang melambaikan tangan, sepertinya ke arah pilot. Rintik hujan membuat pandangan melalui kaca jendela itu terlihat samar-samar atas semua pemandangan di luar pesawat.
Ada perasaan sepi ketika pesawat mulai berjalan menuju landasan. Entahlah, mungkin hujan di luar sana telah membawa suasana itu—suasana yang menggantung antara tenang dan sendu.
Kenyataannya, ini adalah hujan di bulan Oktober. Di sebuah bandara di satu kota yang diri ini merasa belum pernah bisa memilikinya. Hanya sekadar melintas, untuk menuju tempat tujuan. Kota ini seakan menjadi ruang transit, bukan tempat berpulang.
Barangkali jurang antara harapan dan realitas itulah yang membuat hati belum bisa lega sepenuhnya. Ada jarak yang tak selalu terlihat, tetapi terasa nyata di dalam diri. Mungkin pula karena mesti meninggalkan sebuah hati yang menjadi tambatan jiwa, membuat diri ini seolah rapuh. Sebuah perasaan bersalah selalu saja menghinggapi ketika mengingat semua yang telah terjadi—seolah ada sesuatu yang belum terselesaikan.
Namun, sudahlah. Hidup mesti terus berjalan, meski tak sesuai dengan harapan. Barangkali rasa syukur adalah satu-satunya yang membuat diri ini tetap kuat untuk melangkah sejauh ini.
Dua hati yang telah berjanji untuk menyatu kini dihadapkan pada jarak raga. Tetapi pada akhirnya, mesti disadari bahwa tak ada soal dalam berjarak secara fisik, sebab dua hati bisa terus berpaut dalam bisikan doa.
Dan tentu saja, dalam sebuah rasa yang dinamakan: cinta.