Tradisi dzikir
-(Minggu, 12 Oktober 2025)-
Selepas salam pada salat Maghrib dan Subuh, sebagian besar jamaah di masjid tempat saya biasa salat akan tetap bertahan dalam posisi duduk tahiyat akhir. Mereka tidak langsung berdiri, melainkan melanjutkan dengan bacaan dzikir yang diawali kalimat “Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīkalah ....” beberapa kali, kemudian dilanjutkan dengan “Allāhumma ajirnī minan-nār”. Setelah itu barulah mereka membaca “Allāhumma anta as-salām wa minka as-salām…” — pada momen inilah biasanya jamaah mulai mengubah posisi duduknya dari tahiyat akhir menjadi duduk bersila.
Saya sendiri tidak tahu pasti asal mula ritual dzikir tersebut. Namun dugaan saya, kebiasaan ini merupakan bagian dari tradisi tarekat tertentu yang mungkin pernah diajarkan oleh seorang ulama di daerah ini dan kemudian menjadi kebiasaan turun-temurun. Dzikir tersebut tampaknya bukan sekadar rutinitas, melainkan warisan spiritual yang mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai seseorang yang berpegang pada prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” saya berusaha menghormati dan mengikuti tradisi ini sejauh yang saya mampu. Meski begitu, secara pribadi saya jarang bertahan hingga dzikir selesai, terutama pada waktu Maghrib dan Subuh. Biasanya setelah membaca Allāhu akbar sebanyak tiga puluh tiga kali, saya memilih untuk melanjutkan doa pribadi, lalu berdiri dan pulang lebih dahulu.
Bagi saya, tradisi seperti ini menunjukkan betapa beragamnya ekspresi keagamaan dalam masyarakat Muslim. Ia tumbuh dari perpaduan antara ajaran syariat dan kebiasaan lokal yang diwariskan para pendahulu. Meskipun tidak semua orang menjalankannya dengan cara yang sama, saya melihatnya sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual yang hidup di tengah umat — sesuatu yang patut dijaga, selama tidak bertentangan dengan prinsip pokok agama.