Kabut pagi

-(Kamis, 2 Oktober 2025)-

Pagi hari ini berkabut. Mengapa bisa berkabut? Apakah karena awan yang tak jadi turun menjadi hujan? Dugaan itu sempat muncul di benak saya. Tentu, jika ingin mengetahui jawaban pastinya, saya bisa mencarinya di Google. Namun, belum saya lakukan.

Barangkali penjelasan tentang kabut ini pernah diajarkan pada masa sekolah, hanya saja saya sudah lupa. Tetapi, pada titik tertentu, ketidaktahuan itu bukanlah persoalan yang besar. Justru, ada ketenangan tersendiri ketika kita membiarkan diri untuk tidak tahu. Bahkan, rasa tidak tahu itu seringkali membuat kita kagum dan terdorong untuk menduga-duga. Begitulah yang saya rasakan dengan kabut pagi ini.

Fenomena kabut tampak sama di banyak tempat, umumnya hadir di pagi hari. Namun, di daerah pegunungan, kabut dapat muncul kapan saja, seolah menjadi bagian dari keseharian. Kehadirannya membatasi pandangan kita. Bahkan, matahari pun bisa lenyap dari pandangan, tertutup oleh lapisan kabut yang samar.

Karena sifatnya yang menutupi, kabut sering dipakai sebagai metafora dalam bahasa. Ada istilah “kabut duka”, “kabut cinta”, dan mungkin masih banyak lagi. Tentu saja, itu tidak dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai ungkapan rasa yang sulit dijelaskan secara langsung.

Di sini saya mulai bertanya: mengapa manusia begitu suka memakai metafora? Ada yang berpendapat, metafora menunjukkan tingkatan kesusastraan. Ada pula yang melihatnya sebagai cara untuk tidak terdengar terlalu lugas, karena kelugasan terkadang membuat sebagian orang merasa kaku atau tidak nyaman. Bisa juga karena manusia bosan dengan bahasa yang monoton, sehingga metafora menjadi jalan untuk menjaga variasi dan keindahan.

Namun, menarik juga untuk dipikirkan: siapa yang menetapkan bahwa bahasa yang monoton itu buruk? Atas dasar apa penilaian itu dibuat? Bukankah setiap gaya bahasa punya tempat dan fungsinya sendiri, tergantung situasi dan kebutuhan?

Tulisan ini memang tidak punya arah yang jelas sejak awal. Tetapi saya sadar, ada satu hal yang ingin saya tekankan: pentingnya terus bertanya atas apa yang ada di sekitar kita. Keingintahuan adalah motor pembelajaran. Ia bukan sekadar soal mencari jawaban, melainkan juga memberi ruang untuk merenung, mengagumi, dan akhirnya menemukan makna.

Mungkin, di situlah kabut—baik yang nyata maupun yang metaforis—mengajarkan kita sesuatu. Bahwa keterbatasan pandangan tidak selalu buruk. Kadang, justru dari keterbatasan itulah kita belajar melihat lebih dalam.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"