Legacy abadi

-(Minggu, 19 Oktober 2025)-

Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Sebuah ungkapan yang sebagian orang menggunakannya untuk merujuk pada kondisi ketika ada pergantian pimpinan atau satu jabatan.

Bagi yang kritis, benarkah ungkapan itu? Ataukah itu hanya sekadar justifikasi atas apa yang tengah terjadi? Di mana ketika dulunya seseorang dielu-elukan, dipuja, dibanggakan, diandalkan, kini redup dan tergantikan oleh orang lain?

Saya punya perspektif yang berbeda. Meski itu fakta yang kita lihat, saya tak terlalu meyakini itu semua. Barangkali hal itu lebih karena polesan media—agar bagaimana pun terus mendapatkan penonton.

Sebagian orang memang mengalami pasang dan surut. Tapi itu tidak berlaku secara keseluruhan. Ada orang-orang tertentu yang terus disebut-sebut dan sangat memengaruhi masyarakat.

Sebut saja tokoh agama yang sudah lama meninggal dunia, tapi masih terus relevan untuk disebut, diceritakan, dikisahkan, diteladani, dan dijalankan ajarannya.

Ada juga tokoh bangsa yang mewariskan sesuatu dan sejarah besar bagi bangsanya. Ia terus disebut, dikenang, dan dipegang ajarannya.

Maka, kita bisa menyebut orang-orang atau tokoh-tokoh seperti itu tak pernah meninggalkan kita. Ia atau mereka seolah abadi dalam ingatan sebuah bangsa.

Adakah kehidupan yang lebih indah daripada hidup seseorang yang terus diingat dan dikenang? Bahkan terus mengalir doa-doa mulia, yang diyakini bahwa orang itu masih juga memberikan manfaat—baik rohani maupun ekonomi—bagi masyarakatnya. Barangkali itulah sebuah kehidupan yang layak dicontoh dan dicita-citakan.

Sebagaimana dulu Achilles pernah mengatakan betapa ia ingin dikenang sebagai seorang yang pemberani dan begitu mencintai. Maka ia pun melakukan hal-hal besar untuk mewujudkan visinya itu.

Pun barangkali yang dilakukan oleh para pemimpin. Ia tak ingin sekadar menjalani hidup, memimpin, lalu tak mewariskan apa-apa. Selalu ada hasrat dalam diri pemimpin untuk terus diingat, dikenang atas hal-hal besar yang telah ia lakukan.

Karena itu, barangkali kita mulai bisa memahami bahwa adakalanya hal-hal besar yang dilakukan, selain memang bertujuan untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi rakyat, ada pula hasrat agar semua bisa menjadi legacy.

Dan hidup tanpa legacy, mungkin lebih mirip hidup yang lewat tanpa meninggalkan jejak.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"